Senin, 31 Juli 2017

BELANDA PERGI, JAWA DATANG

Ini bukan tulisan yang berniat SARA - Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan, tapi tulisan tentang kenyataan, sebab sepeninggal bangsa Belanda, negara Indonesia yang 35 propinsi ini secara berturut-turut dipimpin oleh presiden orang Jawa. Mulai dari Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Megawati, SBY dan kini Jokowi, semuanya adalah orang-orang sesuku saya: Jawa. Padahal yang disebut Indonesia adalah termasuk Batak, Manado, Minang, Palembang, Riau, Lampung, Ambon, Papua, Aceh, dan lain-lainnya. Saya orang Jawa juga. Tapi saya sama sekali tak bangga dengan presiden Jawa, sebab saya termasuk orang yang disengsarakannya. Masak semakin hari, semakin tua, semakin maju, semakin kaya, tapi bernapas saja semakin susah.

Cobalah hentikan bercerita bahwa Belanda pernah angkat senjata terhadap kita, sebab yang kita lihat sehari-hari yang menenteng senjata ke sana ke mari, tembak sana tembak sini, adalah polisi dan tentara Indonesia, bukan orang Belanda.

Cobalah hentikan bercerita bahwa Belanda pernah mengambil rempah-rempah dan hasil bumi kita. Itu dulu! Kita tidak hidup di zaman dulu. Tapi kini kita megap-megap oleh penghisapan besar-besaran ekonomi rakyat. Uang rakyat seperti air sumur yang disedot ke atas dengan pompa air Jet Pump, sampai-sampai kekeringan. Pemerintah menekan perpajakan ke pengusaha. Pengusaha membebankannya ke harga barang-barangnya, maka melambunglah harga barang-barang. Jadi, jangan main sihir dan main tipu bahwa pemerintah tidak menekan rakyat kecil, melainkan menekan pengusaha kaya. Pemerintah memukul orang kaya, orang miskin yang teriak kesakitan. Orang kaya tak berkurang sedikitpun kekayaannya, malah semakin bertambah kaya.

Di zaman Soekarno, nilai tukar rupiah terhadap dolar adalah Rp. 1,- perdolarnya. 1:1, setara. Di zaman Soeharto, nilai kursnya Rp. 2.000,- hingga Rp. 8.000,- perdolarnya. Lha, sekarang koq malah semakin merosot hingga Rp. 13.300,-? Betapa hinanya jika rupiah itu diumpamakan sebagai orang Indonesia, sedangkan dolar diumpamakan sebagai orang Amerika. Masakan 1 orang Amerika sampai dikeroyok oleh 13.300 orang Indonesia? Memangnya itu Rambo?

Perbaikan ekonomi dari mana? Jika genteng bocor diperbaiki semakin bocor, di mana perbaikannya?

Orang mengambil berjuta-juta kubik pasir dari sungai. Berapakah orang membayar ke sungai? Gratis! Sungai tidak meminta bayaran serupiahpun. Yang dibayar adalah ongkos kuli, ongkos truk dan toko bangunan mengambil keuntungan. Nah, jika kuli di zaman itu bisa hidup dengan ongkos sedikit dan toko bangunan bisa kaya di zaman itu, dari mana pasalnya harga pasir bisa naik terus dari waktu ke waktunya? Pasti ada beban-beban yang ditambahkan sehingga nilainya naik terus.

Beras. Memangnya berapakah petani membayar harga beras ke sawah? Gratis! Sawah tak meminta bayaran serupiahpun untuk jasanya menumbuhkan padi. Tapi bagaimana harga beras bisa naik terus? Bagaimana tidak naik jika harga pupuk dinaikkan terus oleh pemerintah? Jangan bilang ada subsidi harga pupuk. Sebab acara subsidi itu adalah cara pejabat untuk bermain korupsi.

Tahun lalu saya membeli tanah seharga Rp. 100 juta. Tapi, sekarang saya bisa menjualnya seharga Rp. 200 juta. Dari mana penyebab kenaikan harga tanah tersebut? Apakah tanah itu melebar? Apakah tanah itu bertambah banyak? Lha koq naik harganya? Di zaman Soeharto harga rumah Rp. 10 juta saja, tapi sekarang rumah itu bisa seharga 1 milyar. Lha koq bisa?

Ooh, tahun 2014 saya memilih Jokowi apakah supaya Jokowi mencabut subsidi harga BBM? Apakah supaya Jokowi menaikkan harga barang-barang? Apakah supaya Jokowi membawa rupiah ke angka Rp. 13.300,- perdolar? Apakah supaya Jokowi meningkatkan angka pengangguran? Apakah supaya Jokowi meningkatkan jumlah fakir miskin dan rakyat terlantar? Apakah supaya Jokowi meningkatkan jumlah utang negara? Apakah supaya Jokowi menonton operanya DPR menggerogoti KPK?

Kalau boleh saya bertanya: Masih mampukah membenahi Indonesia? Jika sudah tak mampu, letakkanlah jabatan itu, supaya maki-makian dan hujatan orang terhadapmupun terhenti. Supaya hujat dan maki-makian orang dialihkan ke penggantimu. Saya kasihan jika kamu dihujat dan dimaki-maki orang terusan. Tapi tidaklah salah orang yang memaki-maki dan menghujat itu, sebab kakinya terinjak hingga kesakitan. Orang bukan membenci Jokowi, tapi membenci pemimpin bangsa yang lalim.

Kalau Indonesia memang berperang dengan Belanda, coba carilah di Google Maps, di mana letak negeri Belanda, maka arahkanlah moncong senjata anda ke sana, jangan ke sini arahnya. Jangan bangsa sendiri diinjak-injak dan dimusuhi. Ayo, perangilah Belanda, saya dukung!

STOP! PENJAJAHAN DI NEGERI INI. Masak 72 tahun berjalan tak sampai-sampai, tak maju-maju dan menggunungkan tipu?



Hasil gambar untuk gambar memanggul beban

SERBA 8, ADA APA, YA?

17-8-2017  = 1 + 7 + 8 + 2 + 1 + 7 = 26 = 2 + 6 = 8.

Tanggal: 17; 1 + 7 = 8.

Bulan; 8.

Tahun 17; 1 + 7 = 8.

Jangan lupa bahwa kita masih dalam pengaruh Indonesia ke-71(2016-2017); 7 + 1 = 8.

Angka "8" kayak bentuk borgol. Apakah akan ada gelombang pemborgolan, sehubungan dengan undang-undang terorisme yang baru, sehubungan dengan Perppu Ormas dan memanasnya hubungan polisi vs Muslim? Entahlah!

Hasil gambar untuk gambar borgol

Jumat, 28 Juli 2017

Anda Perlu Tahu Betapa Menderitanya Nasib Petani! Tolonglah Mereka!

Bacalah tulisan anak petani miskin ini sampai selesai lalu bagikan;

SILAHKAN ANDA JADI PETANI!!!,

BIAR SAYA BELI BERAS ANDA SEMURAH-MURAHNYA, MAU?!!!!!



http://aribicara.blogdetik.com/2017/07/26/anda-perlu-tahu-betapa-menderitanya-nasib-petani-tolonglah-mereka?_ga=2.54301928.1950311782.1501238445-1435786201.1501238445

Saya bicara disini sebagai seorang anak petani miskin di kampung, dan juga sebagai orang yang pernah menjadi petani langsung di kampung, tapisekarang ini sudah tidak jadi petani sehingga untuk beras selalu beli [jadi konsumen].

Saya terpancing untuk ikut mengutarakan unek-unek saya saat baru-baru ini masyarakat kita heboh dan diributkan soal adanya Polemik Beras Oplosan.

Dalam kasus ini di beberapa pemberitaan media nasional disebutkan bahwa semua ini bermula dari digebreknya sebuah pabrik beras milik PT Indo Beras Unggul (PT IBU), anak perusahaan PT Tiga Pilar Sejahtera oleh Satgas Pangan.

Menurut pemberitaan yang beredar, PT IBU diduga memalsukan kualitas beras dalam kemasan. Namun secara tegas pihak PT IBU membantah memalsukan kualitas beras yang diolahnya dan mereka menegaskan jika yang mereka lakukan legal dan justru ingin mensejahterakan petani karena mereka membeli gabah dari petani dengan harga yang lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah [HPP].

Menanggapi kasus ini, saya hanya ingin bilang, jika saya berterima kasih sekali kepada pihak manapun yang berani membeli gabah ke petani langsung [tidak melalui perantara] dengan harga diatas HPL.

Namun saya juga menegaskan, tetap memohon untuk saat menjualnya, jangan mengambil laba bersihnya terlalu tinggi diatas modal dan operasional.

Dalam tulisan ini saya memang tidak akan secara khusus membahas soal polemik tentang kasus tersebut, melainkan saya ingin bicara terkait dengan pengetahuan saya terkait dengan beras dan petani.

Namun stidaknya menanggapi atas polemik ini, saya agak bersyukur karena setidaknya gara-gara kasus ini mencuat, setidaknya saya ikut bahagia karena setidaknya nama “petani dan nasibnya” menjadi bagian dari pemberitaan. Walaupun saya sadar ini pasti hanyalah hanya “sekelebatan saja” yang saya pastikan tidak akan pernah dijadikan moment untuk bagaimana bisa mensejahterakan nasib petni ekcil di kampung-kampung.

Saya katakan demikian karena biasanya, nasib para petani sepanjang saya dahulu jadi petani, baru akan muncul ke media hanya pada dua moment saja.

Pertama saat moment musim pemilu dan kampanye, dimana saya pastikan pasti semua yang kampanye akan bilang jika mereka berjanji akan mensejahterakan rakyat miskin termasuk petani.

Kedua, biasanya saat harga beras mahal, maka disitu juga barulah nama petani disebut-sebut, Itupun petani kadang malah disudutkan. Padahal perlu anda tahu dan catat bahwa, semahal-mahalnya beras, saya pastikan petani kecil di kampung tidak akan pernah bisa kaya raya kalau hanya andalkan jadi petani, ingat itu!

Yang kaya itu bukan petani melainkan para pengepul beras dan pedagang penjual beras, itulah yang saya pastikan akan jauh lebih kaya daripada petani!.

Jika menjadi petani kecil di kampung bisa membuat kaya, maka saya dan jutaan anak-anak petani di Indonesia tidak perlu capek-capek berjuang habis-habisan meninggalkan kampung agar saya dan anak cucu saya untuk jangan pernah jadi petani kecil di kampung, kecuali memang saya menginginkan kehidupan yang tetap miskin dan serba kekurangan!.

Inilah yang perlu anda ketahui bahwa jika beras mahal, maka anda wajib tahu dengan mahalnya harga beras, maka petani kecil di kampung tetap miskin. [catatan: Yang saya maksudkan petani disini adalah khusus petani kecil, bukan petani juragan tanah dan sejenisnya]

Sedangkan yang kaya adalah mereka para pengepul yang mereka tidak perlu capek-capek bagaimana sulit dan menderitanya menanam padi, tapi mereka para pengepul dan pedagang beras cukup membeli harga yang murah dari petani, kemudian menjualnya dengan harga lebih mahal.
Selama ini jika sampai ada harga beras mahal, ketahuilah jika itu semua karena adanya pengepul-pengepul beras nakal yang menurut saya mereka itu seperti mafia. Merekalah yang menentukan HARGA saat membeli gabah ke petani.

Biasanya, dimana-mana yang MENENTUKAN harga sebuah produk pastinya PRODUSEN bukan?

Dalam hal beras, bukankah sewajibnya Petani kita anggap produsen [yang memproduksi gabah dan beras], LOGIKANYA, para petani inilah yang PUNYA WEWENANG UNTUK MENENTUKAN HARGA GABAH DAN BERAS, karena petanilah yang menanam padi sehingga bisa menghasilkan gabah kemudian diolah jadi beras.

Logikanya juga, petanilah yang SEAJIBNYA menghitung, berapa modal yang harus dikeluarkan petani untuk bisa menghasilkan gabah dan beras. Mulai dari berapa modal beli pupuk, modal bayar saat membajak sawah, modal membayar yang menanam, modal perawatan, dan lain-lain.

Belum lagi kalau kita hitung berapa modal untuk beli tanahnya yang dijadikan tempat untuk menanam padi tersebut. Karena perlu anda catat dan ketahui bahwa petani di kampung tidak pernah menghitung jika tanah sawah mereka yang dijadikan untuk menanam padi mereka sebagai modal.

Hal tersebut diakrenakan yang namanya petani kecil di kampung rata-rata sawah mereka itu hanyalah tanah warisan sehingga tidak dihitung modal.

Anda saya tantang kalau masih tidak percaya dan ngeyel betapa menderitanya petani, silahkan anda coba saja beli sawah sendiri [bukan sawah warisan], lalu anda tanami padi, maka anda baru tahu dan sadar betapa anda butuh puluhan tahun agar modal anda membeli sawah bisa balik dengan cara menjadi petani!.

Kondisi inilah yang hingga detik ini, sudah berganti presiden berkali-kali, menteri pertanian berkali-kali, faktanya mereka tetap TIDAK BECUS untuk bisa MENSEJAHTERKAN PETANI!
Itu kenapa walau kita negara yang katanya mayoritas petani, tapi hampir semua produk petani kita tetap masih import dan import.

Karena alasan itu pula jutaan anak petani hari ini dan seterusnya, saya pastikan tidak akan pernah ada yang ingin jadi petani kecil di kampung!

Kalaupun ada, paling ya mungkin kasusnya mereka anak petani dari tuan tanah yang memang sawahnya banyak sehingga itu mungkin saja mereka mau jadi petani karena warisan tanah mereka banyak. Atau mungkin setelah punya banyak duit setelah kerja merantau dan banyak duit kemudian buat sambilan dia beli tanah dan sejenis itulah kasusnya.

SOLUSI

Untuk bisa mencari solusi atas masalah ini agar nasib petani bisa sejahtera, maka yang paling punya wewenang pertama pastinya negara.

Negara memiliki wewenang untuk mengatur dan membuat kebijakan yang sangat memungkinkan supaya bisa mensejahterakan petani sebagaimana janji dan sumpah mereka saat kampanye.

Solusi yang saya maksudkan, Pemerintah harus memutus mata rantai para mafia beras yang membeli harga gabah murah ke petani. Harga gabah yang dibeli dari petani harus disesuaikan dengan modal pengeluaran petani. Jika masih seperti sekarang ini, tetap saja jangan pernah berharap petani bisa sejahtera.

Jika perlu pemerintahlah yang langsung membeli ke petani lalu kemudian pemerintah pula yang menentukan harga pasar sehingga harga tidak dikuasai oleh mafia beras.

Solusi lainya, jpemerintah harus membuat aturan yang menghapus pajak tanah petani kecil. Misalnya petani yang hanya memiliki sawah di bawah 1 hektar tanahnya tidak kena pajak.
Diluar itu tentunya diperlukan pelatihan khusus kepada petani, bagaimana dengan dia menjadi petani, maka petani tersebut bisa menjadi petani yanag sejahtera.

Memang sih kalau di pemberitaan apalagi itu publikasi pemerintah di televisi dan media, seolah-olah buanyaaaak sekali program-program untuk pertanian di Indonesia, tapi fakta di lapangan, saya bertahun-tahun jadi petani dulu, sama sekali tidak ada kontribusi pemerintah selain pupuk subsidi, itupun kwalitasnya sangat buruk sehingga harus membeli pupuk sendiri untuk kwalitas yang lebih baik.

Solusi lain, jika anda masyarakat yang memang peduli dan ingin menolong petani, kalau bisa, belilah beras langsung ke petani, saya pastikan anda pasti akan mendapatkan harga lebih murah dan petani akan mendapatkan keuntungan lebih banyak [samasama menguntungkan.

Selama ini nasib petani selalu diinjak-injak, negara selalu memaksa bahwa harga beras tidak boleh mahal, yang itu artinya sama saja MEMAKSA SUPAYA PETANI MEMANG SEWAJIBNYA MISKIN TERUS!

Idealnya memang solusinya begini [biar semua suka],
Harga beras mahal [Petani Senang], dan Kesejahteraan rakyat secara pendapatan dinaikan, sehingga mereka akan tetap mampu membeli beras walau mahal. Kan jadinya semuanya senang.

Namun jika anda masih ada yang ngeyel ingin tetap dapatkan harga beras murah, maka solusinya, silahkan beli harga dengan kwalitas yang sesuai dengan kemampuan. Toh harga beras juga bervariasi maam-macam. 

Kalau ngikutin KEINGINAN, penginya otomatis beli beras murah dengan KWALITAS BAIK. Itu kan maunya anda sebagai pembeli. Tapi pernahkah anda berfikir dan membayangkan posisi sebagai PETANI?

Anda berpanas-panas nyangkul di sawah, kepanasan, harus merawat hampir setiap hari, mencbuti rumput di sekitar padi, mengusir burung, semprot hama, dll lalu kemudian dengan seenaknya orang beli dengan harga murah.
Kalau anda masih tetap ngeyel juga, CATAT INI!

SILAHKAN ANDA JADI PETANI!!!,

BIAR SAYA BELI BERAS ANDA SEMURAH-MURAHNYA, MAU?!!!!!


Ketika Anak Petani Tidak Mau jadi Petani

http://aribicara.blogdetik.com/2013/10/30/ketika-anak-petani-tidak-mau-jadi-petani

Pada awal tahun 1980 hingga tahun 1990an, banyak pakar mengatakan jika jumlah mayoritas penduduk di Indonesia dikatakan mayoritas berprofesi sebagai seorang petani.
Namun berdasarkan pengamatan saya dan logika berfikir saya, data tersebut diatas harus perlu direvisi dan terus diperbaiki. Karena menurut saya jumlah petani di Indonesia dari tahun ke tahun dipastikan terus menurun.

Memang saya tidak bisa memberikan data kongkritnya terkait penurunan jumlah petani di Indonesia. Tapi secara logika berfikir saya dan pengamatan yang terjadi, maka sangat mudah bagi kita untuk mengetahui jika jumlah petani di Indonesia dari tahun ke tahun dipastikan terus dan akan terus menurun.

Beberapa bukti dan logika berfikir yang saya maksud diantaranya yaitu semakin berubahnya fungsi lahan persawahan dibangun menjadi rumah, industri, pabrik, ruko, dan yang lainya.
Terkait kondisi tersebut pasti di sekitar anda juga bisa anda lihat secara nyata bukan?
Kita sering melihat sawah-sawah yang dahulu kita lihat setiap pinggiran jalan, kini sawah-sawah tersebut sudah berubah menjadi bangunan rumah, ruko, pabrik, dan lainya.
Dengan hilangnya dan berubahnya lahan yang tadinya sawah kemudian berubah menjadi rumah, pabrik, ruko, dan lainya, itu berarti petani yang tadinya mengolah sawah tersebut entah beralih profesi jadi apa kita tidak tahu.

Bukti lain jika jumlah petani memang dari tahun ke tahun memang selalu menurun yaitu banyaknya anak petani yang tidak mau jadi petani.

Jumlah anak petani yang kemudian mau jadi petani bisa dipastikan anak petani tersebut pasti merupakan anak petani yang memiliki lahan banyak dan luas saja. Sedangkan petani-petani yang memiliki lahan pertanian sedikit bisa dipastikan malas untuk melanjutkan profesi sebagai petani melanjutkan profesi orang tua yang berprofesi sebagai petani.

Dari dua data dan fakta dari kondisi tersebut sudah bisa memberikan gambaran kepada kita bahwa jumlah petani semakin lama semakin menurun.

Jika kita ingin menyebut penyebab dari kondisi tersebut diatas tentunya terlalu banyak. Tapi dari banyaknya penyebab tersebut, yang paling sangat disepakati yaitu terkait tidak adanya jaminan kesejahteraan terhadap profesi petani.

Hingga detik ini, kesejahteraan profesi petani masih menjadi urutan dibawah dibandingkan dengan profesi yang lain.

Jika profesi, guru, PNS, Buruh, Karyawan kantor, Dokter, dan profesi-profesi yang lain semuanya memiliki aturan dan jaminan yang lebih jelas dibandingkan dengan petani.
Berbeda dengan petani yang kesejahteraanya hanya ditentukan oleh para petani itu sendiri. Selebihnya, kesejahteraan petani hanyalah sebatas wacana dan selalu jadi alat kampanye politik yang strategis untuk mencari simpatik.

Lihatlah saat para politikus-politikus busuk berkampanye, pasti didalamnya tidak pernah lepas selalu dan selalu melibatkan janji ingin mensejahterakan petani.
Tapi lihatlah fakta, berkali-kali kampanye diadakan dan terpilih berganti-ganti presiden, tapi berkali-kali pula jaminan kesejahteraan untuk petani tetap mimpi.

koleksi pribadi
koleksi pribadi
Saya sendiri termasuk anak yang terlahir dari seorang anak petani dan keturunan petani, dan saya merasakan bagaimana rasanya menderitanya menjadi seorang anak petani.
Hal itu kenapa yang kemudian saya tidak ingin menjadi petani dan justru ingin belajar tentang TI (Teknologi Informasi). Alasanya sederhana, saya ingin merubah saya dan keluarga saya menjadi lebih baik. Dan cara yang paling sederhana yaitu dengan cara tidak menjadi seorang petani.

Selama pemerintah negeri ini khususnya mereka para menteri yang menangani bidang pertanian dan perdagangan merupakan orang-orang yang “bodoh” dan tidak mampu meningkatkan kesejahteraan para petani bahkan malah sibuk membuat kebijakan import pangan dan import sapi bahkan sampai korupsi, maka selamanya pula tidak akan ada lagi kisah anak petani yang ingin menjadi petani.

Jika negeri kita merupakan lahan yang tandus dan gersang seperti padang pasir, mungkin wajar semua produk-produk pertanian dan pangan kita import. Tapi jika negeri ini teramat sangat subur tapi kok masih tetap import produk pangan dan produk pertanian, tidakkah itu “KEBODOHAN” yang nyata dari para pengelola negara?

Kamis, 27 Juli 2017

FAKTA LAIN DARI KEMEROSOTAN EKONOMI

Suara ambulans meraung-raung telah menginspirasi saya untuk mengaitkan masalah orang sakit dengan masalah ekonomi. Sebab semua penyakit yang berasal dari tubuh kita itu disebabkan oleh tekanan pikiran, kecuali penyakit yang berasal dari luar tubuh, yakni luka-luka akibat suatu kecelakaan atau perkelahian.

Sebab ketika pikiran kita tertekan oleh suatu masalah, kekebalan tubuh kita menurun sehingga penyakit mudah menyerang kita. Itulah sebabnya selain obat dan melarang makanan tertentu, dokter selalu menasehati agar kita tidak banyak pikiran.

Sekarang ini zaman modern, masyarakat kita yang berjumlah 250 juta orang telah dijaga oleh sejumlah dokter yang mencukupi dengan peralatan kedokteran yang sudah serba komputerisasi. Setiap tahun lahir dokter-dokter baru, spesialis-spesialis baru, baik lulusan dalam maupun luar negeri. Ada ribuan Puskesmas, ribuan rumahsakit negeri, ribuan rumahsakit swasta, dan ribuan klinik. Masih ditambah dengan orang-orang kaya yang berobatnya ke luar negeri. Para dokter selain berdinas di rumahsakit juga membuka praktek pribadi. Sedangkan tentang obat-obatan sekarang ini banyak obat herbal serta suplemen-suplemen sebagai pencegahan penyakit, masih ditambah dengan ilmu pengetahuan tentang kesehatan, seperti vegetarian.

Tapi kenapa setiap hari masih ada saja orang yang dilarikan dengan ambulans? Hampir setiap jam pasti ada ambulans yang lewat; "om telolet, om". Parkiran mobil dan motor selalu memadati ruang parkir rumahsakit, kamar-kamar rumahsakit penuh, tempat praktek dokter diantri pasien, apotek diantri pasien, bahkan rumahsakit-rumahsakit swasta baru terus-menerus bermunculan. Larisnya rumahsakit kayak kacang goreng, sampai-sampai "semoga lekas sembuh"-pun mahal harganya. Ada Olga Syahputra dan Julia Perez yang menghabiskan dana bermilyar-milyar untuk "semoga lekas sembuh" saja. Sekalipun nggak sembuh taripnya milyaran mereka bayar. Termasuk Novel Baswedan yang matanya kena siraman air keras, yang hingga kini masih kerasan di rumahsakit Singapura dengan biaya ditanggung negara.

Apa sih problem orang zaman ini kalau bukan soal uang? Yang boss memikirkan kemacetan usahanya di tengah-tengah banyaknya utang, kenaikan harga bahan baku dan kesulitan menggaji karyawan. Yang karyawan pusing karena ancaman PHK dan kreditan-kreditan yang melilitnya. Sopir-sopir pusing dikejar setoran. Maka bagaikan pohon di musim gugur menggugurkan daun-daunnya, demikianlah 250 juta masyarakat Indonesia berguguran satu-persatu. Ada yang menuju kursi roda, ada yang menuju stress dan ada yang menuju gila.

Bisa jadi sebagian dari kecelakaan di jalan disebabkan oleh kurangnya konsentrasi akibat beban pikiran yang berat.

Tekanan ekonomi menyebabkan sakit, sedangkan sakit menyebabkan tekanan ekonomi. Ekonomi dan sakit bagaikan orang yang berkelahi yang saling memukul. Sebab ternyata sakit itu mahal, menggerogoti perekonomian kita. Menjadi miskin, sakit, sakit, menjadi miskin.

Olga Syahputra dan Julia Perez, bertahun-tahun membanting tulang mengumpulkan uang, tapi dalam sekejap semuanya habis tak berbekas.

Lebih dari 70% Semua Penyakit Fisik disebabkan oleh pikiran !

http://klinikhipnoterapijakartabekasi.com/hipnoterapi/lebih-dari-70-semua-penyakit-fisik-disebabkan-oleh-pikiran/

Zaman sekarang kita hidup di dalam dunia yang serba cepat, kita semuanya mau cepat dan cepat. Masih ditambah lagi dengan tekanan-tekanan dalam hidup. Sehingga hal ini membuat kecenderungan stress meningkat dan membuat semakin banyaknya masalah yang timbul. Sebagai contoh: Orang tua yang terlalu menekan anaknya karena anaknya adalah anak pertama yang harus bisa membanggakan keluarga dan meningkatkan derajat orangtua, akhirnya melakukan kekerasan fisik pada anaknya dengan asumsi bahwa hidup itu keras, maka anak harus dihajar dengan keras agar dapat menghadapi hidup yang keras. Yang pada kenyataaanya justru ketika sang anak bertumbuh dewasa,malah membuat merasa tidak percaya diri, tidak nyaman bergaul dengan orang lain, menjadi temperamental , menjadi benci dengan ortunya dan lain-lain. Dan dari pengalaman bahkan menunjukkan bahwa cancer itu sebagian besar juga diakibatkan oleh kebencian atau dendam yang mendalam.
Bahkan dari hasil penelitian ditemukan bahwa  75% dari masalah penyakit fisik yang dialami manusia diakibatkan oleh masalah m ental dan emosi yang semuanya berarti adalah masalah PIKIRAN.
Anda tahu bahwa pikiran itu sangat luar biasa? Pikiran dapat membuat badan kita lemas tak berdaya ketika kita mendengar kabar buruk, pikiran juga dapat membuat badan kita menjadi bersemangat dan antusias ketika kita memikirkan impian kita yang sebentar lagi menjadi kenyataan. Pernahkah anda  dikejar anjing dan anda dapat berlari sangat cepat dari sebelumnya?
Berbagai masalah yang ada pada dalam diri kita sumbernya ada di pikiran bawah sadar kita. Kenapa? Karena pikiran bawah sadar kita merekam semua peristiwa yang kita alami sejak kita masih kecil(janin) sampai dengan masa sekarang. Secara sadar kita hanya mengingat peristiwa-peristiwa yang membekas dan sangat dalam saja. Kita lupa akan suatu peristiwa yang kemungkinan adalah akar dari masalah kita, tapi pikiran bawah sadar kita tetap menyimpannya.
Namun, sayangnya kebanyakan pengobatan sulit menjangkau sumber masalah ini, yaitu pikiran atau lebih tepatnya pikiran bawah sadar.
Anda tahu, hipnoterapi merupakan metoda yang cepat, efektif dan efisien dalam menjangkau pikiran bawah sadar,  melakukan reedukasi dan menyembuhkan pikiran yang sakit
Salam hidup lebih baik
Jimmy K Santosa, Cht-AHI

Penyakit Pikiran lebih berbahaya dari Penyakit Fisik

http://masterholistic.com/penyakit-pikiran-lebih-berbahaya-dari-penyakit-fisik/

Pikiran bermasalah

Kesan di masyarakat selama ini adalah penyakit lebih dominan dikaitkan dengan masalah kesehatan fisik, misalnya migrain, stroke, diabetes,  penyakit jantung, kanker dan lain-lain dan rela menghabiskan banyak uang untuk sekedar menjaga kesehatan dengan konsumsi multivitamin, suplemen makanan, sampai dengan pemakaian alat-alat khusus termasuk berteknologi tinggi untuk menjamin agar mereka senantiasa sehat dan jika sedang sakit, dianggap sangat penting. Seolah-olah tanpa semua itu tidak akan memberikan mereka rasa nyaman dan kepastian untuk tetap sehat atau sembuh dari penyakit fisik mereka. Padahal, yang lebih penting ternyata bukan mengamankan diri dari berbagai penyakit fisik, melainkan penyakit pikiran. Kok bisa?
Pada dasarnya hampir 80% penyakit disebabkan oleh pikiran sebab hal ikhwal terjadinya penyakit tersebut dari apa yang kita terima melalui panca indera kita yang kemudian diproses melalui otak yang meninggalkan banyak pesan negatif dalam pikiran kita, termasuk gangguan akibat pemetaan mental yang salah akibat Deletion-Distortion dan Generalization yang secara alami mempengaruhi persepsi kita terhadap dunia luar dan diri kita sendiri. Misalnya :
  • Dari pengalaman masa lalu ketika kita mengalami tekanan psikis dari pihak lain yang kebetulan berasal dari latar belakang tertentu yang berbeda dengan kita, maka apa yang terekam dalam pikiran kita tersebut menjadi referensi internal dari peta mental kita sehingga terjadi pola generalisasi saat menghadapi situasi dan kondisi serupa yang melibatkan orang dari latar belakang yang sama dengan sebelumnya. Generalisasi ini jelas tidak memberdayakan bahkan membuat stress berkepanjangan yang bisa mengakibatkan trauma dan penyakit psikosomatis, yakni penyakit yang berawal mula dari masalah psikologis dan akhirnya merambat menjadi masalah atau gangguan kesehatan fisik.
  • Dari apa yang dirasakan, misalnya seseorang yang dominan memiliki kepribadian melankolis, ditambah dengan berbagai cerita, film dan berbagai berita yang menyedihkan, memilukan hati, menakutkan dan sebagainya, mengakibatkn berbagai gangguan pada penyakit fisik misalnya jantung, paru-paru, liver dan sebagainya. Hal ini terjadi karena pikiran kita memposisikan diri secara keliru terhadap pemicu masalah yang menimpa kita.
  • Bagi orang yang temperamen, atau mengalami gangguan psikologis lainnya, seringkali setiap kejadian yang menempatkannya pada posisi yang tidak nyaman akan menimbulkan kekesalan dan amarah, sebuah ledakan emosi yang buruk bagi kesehatan.  Syaraf dan otot menjadi kaku atau tegang, dada terasa sesak, nafas pendek-pendek bahkan tidak jarang menguras energi tubuh sehingga muncul stress dan depresi yang mengakibatkan terganggunya organ atau bagian tubuh mulai dari sakit kepala, paru-paru, jantung, lambung, sulit BAB, dan sebagainya karena peredaran darah terganggu, oksigen tidak dapat diserah darah dan diangkut ke seluruh tubuh dengan baik mengakibatkan banyak ‘sumbatan’ atau blok-blok energi yang menyebabkan berbagai penyakit tersebut.
Masih banyak contoh lain dimana penyakit fisik banyak dipengaruhi dari masalah pada pikiran kita. Oleh sebab itu, sekarang selayaknya kita mulai sekarang menerapkan pola pikir yang sehat dan memberdayakan, misalnya:
  • membuang prasangka buruk (su’udzon atau negative thinking) terhadap orang lain
  • memberikan kesempatan pikiran kita berkembang dengan mengikuti berbagai pelatihan pemberdayaan diri
  • meningkatkan relaksasi pikiran melalui program meditasi dan self-hypnosis yang memberdayakan diri kita
  • meningkatkan introspeksi terutama atas apa yang telah kita pikirkan, ucapkan maupun perbuat setiap hari agar kita melihat mana yang kurang pas, yang keliru dan akhirnya membuat kita memiliki pandangan buruk dan menimbulkan masalah psikologis dalam diri kita
  • menjaga keselarasan antara pikiran, peningkatan spiritualitas dan pola hidup sehat dan seimbang
Semoga artikel ini dapat membantu kita menyelesaikan banyak masalah terutama dalam memperbaiki pola pikir kita yang akan banyak mempengaruhi kesehatan psikologis dan fisik tentunya.

Rabu, 26 Juli 2017

MAKA TITOPUN PUSING

Ini merupakan tambahan dan lanjutan dari:

MENGINGAT KEMBALI SANG JENDRAL

http://bloghakekatku.blogspot.co.id/2017/07/mengingat-kembali-sang-jendral.html


Dibatalkannya Budi Gunawan sebagai Kapolri, membuat Megawati mencak-mencak dan memaki-maki Jokowi sebagai "anak yang durhaka". Hati mama Mega sakitnya tuh di sini ....... sebab pejabat setanah air tak ada yang tak menghormatinya, tak ada yang berani padanya. Tapi Jokowi, anak yang baru gede sudah berani membantahnya. Hubungan merekapun kabarnya sempat pasang surut; "benci tapi rindu".

Namun ketika Budi Gunawan dijadikan kepala BIN, hati Megawati lega. Maka sebagai tanda kegembiraannya, disambutlah pencalonan Ahok, si anak emas Jokowi, sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Dia yang semula tidak suka dengan Ahok, kini menjadi suka dan membela Ahok mati-matian. Sebab Jokowi masih memperhatikan posisi Budi Gunawan. Jadi, Ahok yang semula kebingungan antara masuk jalur independen melalui Teman Ahok atau melalui jalur partai, akhirnya merasa puas ketika Megawati memutuskan memilihnya, berdampingan dengan Djarot.

Itu tambahan untuk kemarin. Sekarang tentang penyiraman air keras ke muka Novel Baswedan. Polisi sempat menangkap dan menahan beberapa orang yang dicurigai melakukan penyiraman air keras itu. Namun beberapa kali juga terpaksa semuanya dilepaskan, sebab berdasarkan alibinya tidak terbukti. Mereka adalah "mata elang" yaitu orang-orang yang pekerjaannya mengintai motor-motor yang nunggak kreditannya.

Kecepatan penangkapan mereka sebenarnya sudah menyamai kecepatan polisi menangkap pelaku teroris, pelaku perampokan di Pulomas, perampokan di Daan Mogot dan pembacokan terhadap ahli IT; Hermansyah, yaitu hanya beberapa hari saja, berdasarkan rekaman CCTV. Nah, jika CCTV di jalanan saja bisa diandalkan untuk mengungkapkan pelaku kejahatan, harusnya CCTV di perumahan tempat peristiwa penyiraman air keras itu bisa lebih diandalkan. Sebab luputnya di sekitar rumah Novel Baswedan, siapa tahu bisa didapatkan dari CCTV yang ada di jalanan di sekitar TKP - Tempat Kejadian Perkara itu. Tapi kenapa peristiwa penyiraman air keras Novel Baswedan itu begitu sulit diungkapkan? Itu keanehan yang juga dirasakan dan dipikirkan oleh Novel Baswedan. Bagi Novel, melalui sebuah wawancara, kesulitan itu nyaris mustahil. Pekerjaan mengungkapkan kasusnya itu harusnya sangat gampang sekali. Apa lagi telah dibentuk tim khusus. Hanya satu saja kekecualiannya, yaitu membentur "tembok".

Misalnya, orang-orang yang ditangkap itu mengaku disuruh ......... yang kata Novel Baswedan kepada majalah Time: "seorang jendral", maka pusing tujuh kelilinglah polisi. Kata Tito, Kapolri, jabatan Kapolri itu membikin pusing kepala, stressfull. Karena itu dia memutuskan akan pensiun dini.

Nah, itu baru masuk akal. Tabrakan, stressfull, pensiun dini.

Jadi, begini, semua ini adalah "praduga tak bersalah". Sebelum ada jawabannya yang pasti, harusnya boleh para penonton berpendapat. Nyatanya polisi juga memanfaatkan haknya menangkap dan menahan orang selama 3 x 24 jam, yaitu orang-orang yang dicurigainya sekalipun belum berbukti. Orang itu ditahan berdasarkan rekaman CCTV, lalu setelah dinyatakan tidak terbukti, tokh mereka dilepaskan kembali. Dan hukum itu tidak memandang bulu, entah "mata elang" entah jendral, harusnya diperlakukan secara sama.

Harusnya polisi tidak boleh gusar ketika Novel Baswedan berpikir adanya jendral, dan berniat mempermasalahkan perkataan Novel tersebut. Sebab jika bukan jendral, lalu siapa? Itu harus dijawab secara proporsional dan profesional. Temukanlah pelakunya, maka Novel Baswedan akan dipermalukan oleh perkataannya yang terbukti tidak benar. Jawablah dalil dengan dalil pula. Bungkamlah isu-isu yang berkembang di masyarakat dengan pembuktian kebenaran, bukan dengan teror ancaman memenjarakannya.

Seperti kasus pembacokan Hermansyah, ahli IT yang menyatakan video porno habib Rizieq Shihab itu palsu, bukankah berkembang tudingan pelaku pembacokan itu polisi? Tapi setelah polisi berhasil menangkap semua pelakunya, bukankah masyarakat angkat topi pada kinerja polisi yang begitu cepat dan tanggap?!

Hasil gambar untuk novel baswedan

Dalam Rekaman, Megawati Disebut Memaki Jokowi Karena Tolak Budi Gunawan

http://www.terasbintang.com/dalam-rekaman-megawati-disebut-memaki-jokowi-karena-tolak-budi-gunawan/

TERASBINTANG.com – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sempat memaki-maki Presiden Joko Widodo lantaran menolak pengangkatan Budi Gunawan sebagai Kapolri. Kejadian itu berlangsung di Solo. Turut hadir juga elite parpol Koalisi Indonesia Hebat (KIH) saat kejadian tersebut. Hal ini terungkap dalam rekaman yang diputar di sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Suara itu diduga milik pengusaha minyak Riza Chalid.
Di Solo ada… ada Surya Paloh, ada si Pak Wiranto, pokoknya koalisi mereka. Dimaki-maki, Pak, Jokowi itu sama Megawati di Solo. Dia tolak BG,” demikian suara yang diduga Riza seperti dalam rekaman yang diperdengarkan di sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), Rabu (2/12).
Presiden Jokowi memang sempat mengusulkan Budi Gunawan sebagai Kapolri pada Februari lalu. Namun gagal dilantik lantaran Budi dijadikan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meskipun Komisi III meloloskan Budi dalam fit and proper test.
Jokowi lebih memilih mengusulkan Badrodin Haiti sebagai calon kepala Polri yang baru. Menurutnya, pencalonan Budi Gunawan sebagai kepala Polri telah menimbulkan perbedaan pendapat di masyarakat.
Dalam rekaman itu, suara yang diduga Riza itu juga mengaku heran dengan keberanian Jokowi melawan Megawati.
Gila itu, sarap itu. Padahal, ini orang baik kekuatannya apa, kok sampai seleher melawan Megawati,” ucap suara yang diduga Riza. (wp)

Terungkap, Ini Alasan Tito Karnavian Ingin Pensiun Dini

http://www.gemarakyat.id/terungkap-ini-alasan-tito-karnavian-ingin-pensiun-dini/#

Gema Rakyat – Peluang jadi Kapolri terlama, tidak menjadi impian Jenderal Tito Karnavian (52). Meski masih memiliki lima tahun lagi waktu pensiun, Tito memilih untuk pensiun dini dari Korps Bhayangkara.
“Saya sampaikan. Kalau saya boleh pilih, saya tidak ingin selesai sampai tahun 2022. Kenapa? Terlalu lama, tidak baik bagi organisasi, tidak baik bagi saya sendiri. Bayangin, saya jadi Kapolri 6 tahun, anggota organisasi bosen,” ungkap Tito usai upacara HUT Bhayangkara di Monas, Jakarta Pusat, Senin (10/7).
Organisasi Polri, kata Tito, butuh penyegaran. Artinya, perlu calon pemimpin baru. Amanah sebagai Kapolri, lanjutnya, memberikan tekanan yang berat. Sehingga memicu tingkat stres yang tinggi (stressfull).
“Saya katakan, jadi Kapolri itu penuh dengan kehidupan stressfull. Banyak persoalan-persoalan. Nah, saya juga punya hak menikmati hidup bersama keluarga dalam kehidupan less stress full,” ungkap peraih Adhi Makayasa lulusan Akpol 1987 itu.
Pensiun dini, kata Tito, masih awam bagi masyarakat Indonesia. Bahkan, Jadi bahan tertawaan. Mengingat, banyak pihak yang justru ingin memperpanjang masa pensiun.
Namun, lanjut jenderal asal Palembang itu, di luar negeri merupakan hal yang diinginkan banyak orang.
“Di luar negeri justu kalau dia sudah kerja keras, dia pengen menikmati sisa hidupnya. Banyak yang pensiun dini dan itu tidak masalah. Bagi saya yang pernah sekolah di luar negeri, melihat kultur pensiun dini itu biasa,” papar mantan Kepala BNPT itu.
Meski berkeinginan untuk pensiun dini, Tito mengaku tidak tertarik untuk terjun ke dunia politik. Alasannya, berkecimpung di ranah politik hanya akan menambah stres. Apalagi, tidak ada riwayat politikus dalam keluarga besar mantan Kapolda Metro Jaya itu.
“Saya tidak tertarik pada politik, tak memiliki gen politik. Politik itu banyak tarik-menarik. Bahkan timbul musuh-musih baru dan makin tambah stres,” timpal jenderal yang memimpin operasi Tinombala itu.
Lalu, kapan Tito akan memutuskan untuk pensiun dini? Menurutnya, dirinya akan memutuskan pensiun dini jika telah menemukan momen yang tepat. Dirinya bahkan, sudah menyiapkan aktifitas setelah memutuskan pensiun dari institusi kepolisian.
“Kemungkinan pada saat waktu yang saya anggap tepat mungkin saya akan pensiun dini. Saya ingin lari ke dunia pendidikan, jadi pembicara,” demikian Tito. [GR / psi]

Novel Baswedan Nilai Polri Membangkang Perintah Presiden!

http://www.rmoljabar.com/read/2017/07/23/49189/Novel-Baswedan-Nilai-Polri-Membangkang-Perintah-Presiden!-

RMOLJabar. Hingga kini polisi belum berhasil mengungkap pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan. Penyidik senior KPK itu mempertanyakan kinerja kepolisian.

Kepada wartawan Jawa Pos Agus Dwi Prasetyo dan Imam Husein, Novel yang kini dirawat di Singapore General Hospital membeberkan sejumlah kejanggalan penanganan perkara yang dilakukan polisi. Berikut petikannya.
 
Sampai sekarang polisi belum berhasil mengungkap pelaku kasus penyerangan terhadap Anda. Seperti apa sebenarnya yang terjadi? 

Coba sekarang cara berpikir kita dibalik. Kewajiban saya adalah melakukan tugas sebagai aparatur negara. Itu sudah saya lakukan dan ke depan saya akan tetap lakukan. 

Saya tetap fokus melakukan itu dengan sekuat dan sekeras mungkin saya bisa. Kejadian ini tidak membuat saya gentar. Tidak membuat saya takut.

Lalu apa korelasinya dengan cara berpikir terbalik itu? 
Soal ada permainan (di balik kasus penyiraman, Red) dan ada hal yang tidak diungkap (polisi), itu masalahnya bukan di saya. Itu masalahnya harus dipandang dari sisi yang lebih besar.

Ini negara. Negara punya aparatur, di antaranya saya. Dan saya diserang. Sekarang yang seharusnya marah siapa? Negara. Presiden mewakili negara sudah marah dan perintahkan ungkap kasus ini. Tapi tidak diungkap.
Maksud Anda, kepolisian tidak mengindahkan perintah presiden?

Secara manusiawi semestinya (penyerangan) ini tidak boleh dibiarkan. Karena kalau dibiarkan, efeknya adalah (tindakan teror terhadap aparatur negara) akan terulang. Bagi saya, ketika presiden memerintahkan untuk diungkap, tapi ternyata tidak diungkap, adalah pembangkangan yang harus dilihat sebagai masalah serius.

Kok beraninya presiden menyuruh mengungkap, tapi tidak dilaksanakan. Perspektif kita mestinya dibelokkan ke sana (pembangkangan).

Lalu bagaimana kalau pembangkangan tetap dilakukan? 
Kalau saya ya terserah. Apakah ingin (pembangkangan) ini menjadi sejarah bahwa ada presiden memberikan perintah kepada aparatur, tapi tidak dilaksanakan? Ada aparatur yang bekerja benar, terus diserang (teror), tapi sekarang dibiarkan.

Bahkan, ditutup-tutupi pelakunya. Apakah ingin ada sejarah seperti itu? Sekarang zaman keterbukaan, tidak bisa lagi ditutup-tutupi.

Anda kecewa dengan pengungkapan kasus penyerangan ini? 
Kalau dibilang saya kecewa, secara manusiawi mestinya kecewa. Tapi, saya berpikirnya positif. Saya hanya mengambil sisi saya, di mana saya akan tetap melakukan apa yang menjadi kewajiban saya. Ketika orang punya kewajiban, tapi tidak melaksanakannya, saya hanya kasihan dan prihatin.

Kok bisa ya ada aparatur punya kewajiban, tapi tidak melaksanakan. Saya tidak mau seperti dia (polisi). Saya berdoa semoga saya tidak menjadi orang seperti dia (polisi).

Anda lebih senior daripada tim penyidik kepolisian yang tengah mengungkap kasus Anda. Apakah memang sedemikian sulit mencari pelaku penyerangan Anda?

Ini perkara mudah, sangat mudah. Kalau dibilang sulit, saya tidak paham sulitnya di mana. Karena hal-hal ini sudah dijelaskan semua dan bukti-bukti. Langkah-langkah yang dilakukan tim Polri untuk mengungkap kasus ini saya lihat sudah cukup bagus. Tapi, saya nggak tahu kenapa kok berhenti prosesnya.

Janji Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang akan memeriksa Anda di Singapura bagaimana kejelasannya? 
Tidak ada kejelasan. Sampai sekarang belum ada. Cuma, yang mau saya tegaskan dalam kesempatan ini, sejak pertama kali kejadian, saya sudah memberikan keterangan. Hari pertama, polsek datang, dari polres datang, dari polda datang, dari Bareskrim dan densus pun ada.

Dan saya selalu memberikan keterangan. Langsung saya berikan, tidak pakai nanti. Jadi, kalau saya dibilang tidak memberikan keterangan, saya kira humas (Polda Metro Jaya dan Mabes Polri) tidak tahu. Karena saya memberikan keterangan bukan ke humas.

Humas Polri menyatakan, keterangan Anda mestinya masuk dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Bagaimana terkait itu?

Kalau terkait dengan diperiksa, saya kira memberikan keterangan tidak selalu dalam BAP. Penyidik itu mengetahui adanya interview, ada interogasi, dan lain-lain. Jadi, kalau dibilang tidak memberikan keterangan, dia (Humas Polri) lupa barangkali dan tidak paham teknis.

Apa lagi kejanggalan penanganan perkara Anda selama ini? 

Ada lagi penyampaian yang saya dapat itu informasinya bahwa rencana penyidik Polri ingin memperlihatkan kepada saya sketsa wajah yang mereka buat. Menurut saya, ini kekonyolan yang perlu dipublikasikan. 

Karena sejak awal kejadian saya bilang tidak melihat langsung pelakunya. Ini berkali-kali saya sampaikan secara jelas dan lugas. Jadi, kalau dibilang akan ditunjukkan sketsa wajah pelaku kepada saya, berarti dia tidak paham dengan penyampaian (keterangan) saya. Saya nggak lihat pelakunya, kenapa ditunjukkan kepada saya? 

Apakah itu membuat Anda semakin yakin memang benar ada aktor intelektual yang pernah Anda sebut bahwa seorang jenderal polisi ada di balik penyerangan ini?
 
Jadi begini sebenarnya, pandangan publik sudah jelas. Jadi, kalau ditanya ke saya lagi, saya kira tidak pas lagi lah. Karena apa, semua orang sudah tahu bahwa itu (penanganan perkara penyerangan) sudah membingungkan dan meragukan. Ini sudah menjadi hal yang masalah. [jar/jpnn.com]