Jumat, 30 Juni 2017

LIBERALISME DENGAN KOMUNISME

Antara tahun 538 - 1798 Tarikh Masehi adalah tahun-tahun yang buruk bagi bangsa-bangsa di Eropa. Mereka menikmati permusuhan dan penganiayaan yang habis-habisan dari Roma Katolik terhadap orang-orang pengikut JALAN TUHAN yang berpegang teguh pada Alkitab. Pengikut JALAN TUHAN adalah penerus ajaran para rasul yang mula-mula, yang memelihara hari Sabat. Mereka bukan orang Kristen, sebab Kristen baru ada di zaman Martin Luther, tahun 1517 Tarikh Masehi, yaitu mereka yang ibadahnya di hari Minggu. Jadi, JALAN TUHAN berhari Sabat, sedangkan Kristen berhari Minggu. Kristen adalah sempalan/pecahan dari Roma Katolik.

Ibrani
4:9Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.

Penganiayaan yang hebat itu membuat banyak orang menyerukan adanya kebebasan dan kemerdekaan, tentang hak-hak asasi manusia. Tahun 1215, di Inggris lahirlah Magna Carta, sebuah naskah yang membatasi hak-hak raja dan menuntut raja dibatasi oleh hukum. Magna Carta adalah langkah awal bagi sebuah proses panjang bagi hukum konstitusional.

Isi Magna Carta sebagai berikut:
  1. Raja beserta keturunannya berjanji akan menghormati kemerdekaan, hak, dan kebebasan Gereja Inggris.
  2. Raja berjanji kepada penduduk kerajaan yang bebas untuk memberikan hak-hak.
  3. Para petugas keamanan dan pemungut pajak akan menghormati hak-hak penduduk.
  4. Polisi ataupun jaksa tidak dapat menuntut seseorang tanpa bukti dan saksi yang sah.
  5. Seseorang yang bukan budak tidak akan ditahan, ditangkap, dinyatakan bersalah tanpa perlindungan negara dan tanpa alasan hukum sebagai dasar tindakannya.
  6. Apabila seseorang tanpa perlindungan hukum sudah terlanjur ditahan, raja berjanji akan mengoreksi kesalahannya.
  7. Kekuasaan raja harus dibatasi.
  8. Hak Asasi Manusia (HAM) lebih penting daripada kedaulatan, hukum atau kekuasaan.
Magna Carta dianggap sebagai lambang perjuangan hak-hak asasi manusia, dan dianggap sebagai tonggak perjuangan lahirnya hak asasi manusia.

Tahun 1628, di Inggris lahirlah Petition of Right, yang isinya:

  1. Pajak dan pungutan istimewa harus disertai persetujuan parlemen.
  2. Warga negara tidak boleh dipaksakan menerima tentara di rumahnya.
  3. Tentara tidak boleh menggunakan hukum perang dalam keadaan damai.

Tahun 1679, lahirlah Hobeas Corpus Act, yang isinya tentang penahanan seseorang;

  1. Seseorang yang ditahan segera diperiksa dalam waktu 2 hari setelah penahanan.
  2. Alasan penahanan seseorang harus disertai bukti yang sah menurut hukum.

Tahun 1689 lahirlah Bill of Right, yang isinya;

  1. Kebebasan dalam pemilihan anggota parlemen.
  2. Kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat.
  3. Pajak, undang-undang dan pembentukan tentara tetap harus seizin parlemen.
  4. Hak warga negara untuk memeluk agama menurut kepercayaan masing-masing.
  5. Parlemen berhak untuk mengubah keputusan raja.

Pada abad ke-20, Amerika Serikat memegang peran utama dalam pendirian Perserikatan Bangsa-Bangsa dan penyusunan Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia. Sebagian besar Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia mengambil model sebagian dari U.S. Bill of Rights.

Isi Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia, bahwa setiap orang mempunyai hak;

  1. Hidup
  2. Kemerdekaan dan keamanan badan
  3. Diakui kepribadiannya
  4. Memperoleh pengakuan yang sama dengan orang lain menurut hukum untuk mendapat jaminan hukum dalam perkara pidana, seperti diperiksa di muka umum, dianggap tidak bersalah kecuali ada bukti yang sah
  5. Masuk dan keluar wilayah suatu Negara
  6. Mendapatkan asylum
  7. Mendapatkan suatu kebangsaan
  8. Mendapatkan hak milik atas benda
  9. Bebas mengutarakan pikiran dan perasaan
  10. Bebas memeluk agama
  11. Mengeluarkan pendapat
  12. Berapat dan berkumpul
  13. Mendapat jaminan sosial
  14. Mendapatkan pekerjaan
  15. Berdagang
  16. Mendapatkan pendidikan
  17. Turut serta dalam gerakan kebudayaan dalam masyarakat
  18. Menikmati kesenian dan turut serta dalam kemajuan keilmuan

Bangsa-bangsa Eropa yang berdiaspora ke Amerika Serikat dan Australia, yang trauma dengan system kepausan yang sewenang-wenang, sangat gencar menyerukan Hak Asasi Manusia. Masalah Hak Asasi Manusia merupakan isu yang sangat sensitif bagi mereka. Mereka akan berdiri melawan dan menentang setiap bentuk penindasan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyatnya.

Kelompok Amerika Serikat ini kita kenal sebagai blok Barat yang berpaham Liberalisme. Ketika mereka hendak meliberalkan seluruh dunia, mereka terhadang oleh blok Timur yang dikepalai oleh Uni Soviet(sekarang: Rusia) dan China yang berpaham Komunisme.

Apa itu Komunisme? Jika paham Liberalisme memberikan kebebasan bagi tiap-tiap orang untuk mengembangkan diri, sebaliknya, Komunisme membatasi kebebasan orang untuk mengembangkan diri. Jika Liberalisme membuka kesempatan kepada orang untuk maju, untuk mencapai cita-citanya, untuk menjadi semakin kaya, dan tidak mustahil seorang petani menjadi presiden, paham Komunisme menetapkan setiap orang berada pada tempatnya masing-masing. Jika dia rakyat, seumur hidupnya tetap rakyat, jika dia bangsawan, seumur hidupnya adalah bangsawan.

Konsekwensi dari paham Liberalisme adalah membiarkan harimau lebih besar daripada kucing; pedagang yang lebih cerdik mengalahkan pedagang yang bodoh, yang modern mengalahkan yang tradisional. Yang punya modal besar memiliki hak yang sama dengan yang punya modal kecil. Supermarket dan mall-mall berdiri bersama dengan pasar tradisional, Alfamart dan Indomart berdiri bersama dengan toko-toko tradisional, Gojek dan Grabbike berdiri bersama dengan ojek-ojek tradisional, taksi-taksi online berdiri bersama dengan taksi-taksi umumnya, Transjakarta berdiri bersama dengan angkutan-angkutan umumnya, calo-calo tiket disingkirkan digantikan dengan Alfamidi dan Indomaret yang berjualan tiket online.

Saya punya uang, saya bisa mendirikan Panti Asuhan, saya isi dengan anak-anak yatim, tidak saya kasih makan, mereka kurus-kurus, saya potret, saya postingkan di media sosial, mengalirlah sumbangan-sumbangan. Semakin kurus semakin menghasilkan banyak sumbangan. Karena itu saya tak perlu mengenyangkan mereka. Dengan kantor yang mewah, penampilan saya meyakinkan orang-orang kaya untuk menyumbang. Ada nomor telepon, ada nomor rekening bank, memudahkan orang mengirimkan uang, maka kalahlah pengemis yang di jalan-jalan, yang pakaiannya kumal dan bau. Jika pengemis asli dapatnya uang recehan, saya bisa mendapatkan ratusan juta dalam sekejap. Dan pemerintah jelas mendukung "pengemis" yang berijin dari kementerian sosial daripada pengemis-pengemis liar di jalanan itu. Karena itu mereka ditangkapi dan masyarakat dianjurkan menyalurkan sumbangannya ke lembaga-lembaga amal.

Apa yang saya bisa lakukan, boleh saya lakukan, berdasarkan paham Liberalisme. Perkampungan yang saya inginkan akan saya beli, saya gusur, lalu saya dirikan perumahan elite. Itulah konsekwensi dari paham Liberalisme. Indonesia telah menandatangani perjanjian AFTA yaitu persaingan bebas antar anggota Asean yang terdiri dari 10 negara, yang mulai berlaku tahun 2015. Dampaknya dirasakan sekali oleh Kapolri, jendral Tito, tahun 2016 terjadi peningkatan kejahatan: "Globalisasi membawa dampak jumlah kejahatan".

Bagaimana tidak menambah angka kejahatan, jika kemakmuran orang diusik sehingga orang menjadi miskin dan serba kekurangan. Ke mana larinya jika hidup semakin tertekan, kalau bukan ke kejahatan sebagai jalan pintasnya? Ada berapa banyak kasus pemukulan, penganiayaan dan pembunuhan driver Gojek oleh tukang-tukang ojek pangkalan?! Para tukang ojek tradisional itu marah dan menyesalkan pemerintahan Jokowi dan Ahok yang cenderung pro pada Gojek dan Grabbike.

Lalu, apakah paham Komunisme lebih baik? Yang pertama, Komunisme itu menganggap agama sebagai racun. Orang tidak diijinkan bertuhan, supaya jangan atas nama tuhan lalu melawan negara. Negara tidak mau dibikin repot oleh ulah ulama-ulama provokator. Setiap orang yang ketahuan beragama akan dihukum. Karena tidak bertuhan, jelas saja Komunisme kurang mengenal adanya kasih sayang. Komunisme melarang orang menggunakan perasaannya, tapi mengenalkan aturan-aturan pemerintah yang harus ditaati. Secara systematis Komunisme melenyapkan kasih

Tahun 1950, Vladimir Lenin, imam agung Komunisme, mempopulerkan slogan: “Agama adalah candu masyarakat. Ganyanglah kasih kepada sesama. Apa yang kita inginkan ialah kebencian. Kita harus belajar bagaimana membenci karena inilah yang memungkinkan kita menaklukkan alam semesta ini.”

Komunisme tidak mengijinkan rakyat mempunyai alat-alat produksi atau mesin-mesin. Karena itu jangan berharap ada rakyat yang mendirikan pabrik-pabrik. Dan rakyat harus melawan tuan tanah dan kapitalis. Orang-orang kaya harus dimusuhi, sebab semua orang harus berada dalam kelas yang sama, sama rata dan sama rasa. Tapi di masa Deng Xiaoping terjadi perubahan besar di mana banyak ajaran-ajaran Komunisme yang disingkirkan, terjadi pembaruan di segala bidang antara tahun 1982-1987. 

Kebaikan dari ideologi komunisme menganggap semua orang itu sama, sehingga dalam ajarannya komunisme memprogramkan tercapainya masyarakat yang makmur dan masyarakat komunis tanpa kelas dan juga mengajarkan teori perjuangan (pertentangan) kelas, misalnya proletariat melawan tuan tanah dan kapitalis.
           
Karena ajarannya itu, banyak rakyat jelata yang miskin sangat tertarik untuk menganut ideologi komunisme tersebut. Hal itu bukan disebabkan karena propaganda ajarannya saja, tetapi juga karena tindakan-tindakan nyata untuk mencukupi kebutuhan material mereka. Contohnya RRC. Rakyat Cina berjumlah lebih dari 1,1 milyar. Kita tidak pernah dengar kelaparan dan ketelanjangan di Cina. Karena komunisme disana mampu memenuhi janji memakmurkan rakyat, komunisme di Cina laku. Namun, supaya tetap laku, komunisme Cina mengalami liberalisasi. Secara fisik dapat mencermati busana pemimpin RRC sekarang, bukan jas tutup lagi seperti Mao Zedong dan Chou En Lai, melainkan jas buka seperti Bill Clinton atau Antony Blair. Dalam bidang ajaran, RRC juga mengadakan lilberalisasi, seperti merebaknya kebebasan beragama dan beribadah. Jadi komunisme asli tidak ada lagi.

Jika Liberalisme dan Komunisme sama-sama bukan ajaran yang baik, maka seperti apakah ajaran Kristen itu? Ajaran Kristen justru mirip dengan ajaran Komunisme. Kita harus membedakan antara Komunisme paham pemerintahan duniawi dengan Komunisme ajaran TUHAN. Bedanya, jika pemerintahan dunia untuk kekuasaan, sedangkan ajaran TUHAN merupakan pola hidup dari mempraktekkan Firman TUHAN.

Komunis itu dari kata komunitas, yaitu perkumpulan dari orang-orang yang sehati, sehingga mereka menjadi sejiwa, sepikir-sejiwa. Ada penyesuaian diri antara seorang terhadap orang yang lainnya. Yang kuat menolong yang lemah, yang besar melindungi yang kecil, bukan karena bisa besar sehingga semakin membesarkan dirinya, bukan karena bisa kuat sehingga semakin menguatkan dirinya. Dalam komunitas tidak ada perlombaan, yang ada keseimbangan;

Kisah
2:44Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
2:45dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
2:46Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
2:47sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Kisah
4:32Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
4:33Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
4:34Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
4:35dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

Karena itu kalaupun saya mempunyai modal untuk mendirikan toko yang besar dan menjual barang dengan harga miring, itu takkan saya lakukan, melainkan saya akan membuka toko dengan menyesuaikan diri terhadap toko-toko yang ada di sekitar saya. Saya tidak akan menyaingi orang, tidak akan merampas rejeki orang.

Atau, kalau saya mempunyai kepandaian teknologi seperti Nadiem Makarim, pendiri Gojek, saya takkan membuat usaha Gojek, yang sekiranya menimbulkan polemik yang mengguncangkan pangannya tukang ojek pangkalan. Ilmu itu harus saya manfaatkan untuk bidang usaha yang lainnya, yang tidak merugikan orang lain, atau ilmu itu akan saya buang jika saya pandang jahat. Sebab kita harus menyadari bahwa tidak semua ilmu itu baik. Lebih baik bodoh berpahala daripada pintar menjadi penghuni neraka.

Dengan adanya contoh kehidupan para pengikut JALAN TUHAN sebagaimana di Kisah pasal 2 dan 4 di atas, jelas Kristen itu menentang paham Liberalisme. Kristen takkan membiarkan para tengkulak bahan kebutuhan pokok mempermainkan harga beras, harga gula, harga cabe, harga telor, dan hal-hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak menaikkan harga semau-maunya sendiri. Pemerintahan Kristen pasti akan menjaga kestabilan harga dan menolak globalisasi jika globalisasi itu akan memelaratkan rakyatnya.

Satu bangsa, satu negara, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Takkan ada persaingan antar tetangga, yang satu makin kaya, yang lainnya makin miskin. Yang satu rumahnya mentereng yang lainnya rumahnya gubug derita. Yang punya anak banyak dengan yang punya anak sedikit gajinya sama, sehingga yang banyak anak hidupnya megap-megap sedangkan yang sedikit anak hidupnya berkelimpahan. Memangnya anak-anak itu titipan Siapa? Memangnya anak-anak itu tidak boleh hidup enak dan makan enak? Itulah model keadilan sama rata. Sama kedudukannya sama gajinya, mengabaikan jiwa-jiwanya. Orang dinilai dari kepandaiannya bukan dari kemanusiaannya. Yang pandai itulah yang manusia, yang bodoh itu kucing. Yang direktur itu manusia, yang tukang sapu itu anjing. Apakah seperti itu rancangan TUHAN?! Tidak! TUHAN justru sering memakai orang-orang kecil, para nelayan sederhana, untuk dijadikan nabiNYA. TUHAN bukan melihat orang dari penampilannya, melainkan dari hatinya. Tak guna penampilan necis jika korupsi, masih lebih bagus yang berjiwa sosial sekalipun penampilannya sederhana.

Sebab sebuah mobil itu dibangun dari berbagai bahan, ada plastik, ada karet, dan ada besi, tidak semuanya besi. Ada bagian yang besar, ada bagian yang kecil, semuanya penting. Demikian pula dalam sebuah perusahaan, apa artinya direktur jika tanpa buruh, apa artinya perusahaan itu jika tanpa tukang sapu. Jika tukang sapu bukan hal yang penting, jangan memakai tukang sapu, daripada tukang sapu digaji sedikit dan hidup serba kekurangan. Jangan sampai sama perut beda isinya. Perutnya direktur isinya ayam goreng, perut tukang sapu isinya nasi basi. Jangan sampai orang makan ayam, pengemis makan ikan asin. Apakah TUHAN membedakan orang seperti itu?

Saya mengucap syukur, sebab saya dengar tukang sampah sekarang ini sudah digaji standart UMR. Itu artinya mereka sudah mulai dihargai sebagai sesama buruh. Sebuah langkah maju. Tapi kapan giliran gelandangan dan pengemis dihargai sebagai manusia, bagian dari negeri ini?! Kapan semua jiwa di negeri ini menjadi manusia?!

Hasil gambar untuk gambar monyet

Rabu, 28 Juni 2017

PERSOALAN-PERSOALAN

1. PEKERJAAN MENGEMIS;

Mengemis itu artinya meminta-minta. Tidak punya sesuatu meminta supaya mempunyai sesuatu. Tidak punya uang meminta uang disertai gaya memelas, itulah mengemis. Bagaimana dengan anda ketika dalam keadaan menganggur tidak punya pekerjaan, tidakkah anda akan merengek-rengek dan mengemis pekerjaan?! Bagaimana dengan anda yang cintanya bertepuk sebelah tangan, tidakkah anda akan mengemis cinta?! Bagaimana dengan anda yang berdagang dan dagangan anda tidak laku, tidakkah anda mengharap-harapkan belas kasihan orang agar membeli dagangan anda? Bagaimana dengan anda yang berdoa kepada ALLAH meminta rejeki, tidakkah anda sedang mengemis pada ALLAH?! Bagaimana jika di tengah jalan anda kecelakaan atau mobil anda mogok, tidakkah anda akan mengemis pertolongan?! Bagaimana dengan para kontraktor atau pengusaha yang mengharapkan order dari pemerintah, tidakkah mereka itu akan mengemis-ngemis proyek pada pejabat?! Bagaimana dengan anda yang sedang menghadapi vonis pengadilan, tidakkah anda akan mengemis-ngemis pengampunan dari polisi, jaksa dan hakim?! Bagaimana jika anda sedang krisis uang lalu hendak berutang pada seseorang, tidakkah anda akan berlaku seperti pengemis?! Bagaimana jika ketika ditagih utang tidak bisa membayarnya, tidakkah anda akan merengek-rengek belas kasihan?!

Wouh, ternyata semua orang kedapatan adalah pengemis, ya?! Bagaimana pula dengan mesjid yang meminta sumbangan di jalan-jalan atau pendeta di gereja yang mengedarkan kantong kolekte? Tidakkah kantong kolekte itu kayak kantong permen Kopiko yang biasa dipakai oleh para pengamen untuk menampung pemberian orang?! Jika pengemis menerima uang recehan Rp. 500,--an, apakah tidak boleh orang memasukkan uang recehan ke kantong kolekte atau ke kotak amal?! Jika pendeta menerima uang besar Rp. 50.000,--an, apakah tidak boleh orang memberi pengemis Rp. 50.000,--an?!

Pendeta = pengemis?!

Hasil gambar untuk gambar kantong kolekte
2. MENGGANGGU KENYAMANAN;

Pengemis itu mengganggu kenyamanan orang. Okey! Rasanya hanya orang mati yang bebas dari gangguan. Sebab luputnya anda diganggu pengemis, anda akan diganggu pencuri. Luputnya diganggu pencuri, anda akan diganggu pencopet. Luputnya diganggu pencopet, anda akan diganggu perampok. Luputnya diganggu perampok, anda akan diganggu teroris bom. Luputnya teroris bom adalah penipuan. Luputnya ditipu orang, anda dijalanan dicegat polisi lalu ditilang. Luputnya kena tilang, anda ditangkap polisi karena suatu kasus. Luputnya ditangkap polisi, saudara kandung anda membuat masalah yang memusingkan kepala. Luputnya saudara kandung mungkin orangtua atau tetangga atau teman dekat yang membuat masalah. Luputnya masalah dengan orang, masalah perekonomian mengganggu ketenangan anda. Luputnya masalah ekonomi, tiba-tiba perusahaan mem-PHK anda. Luputnya kena PHK, penyakit menghinggapi anda hingga menghabiskan kekayaan anda. Luputnya kena penyakit, rumah anda digusur oleh gubernur Ahok. Luputnya kena gusur, Ahok kini masuk penjara kena masalah Al Maidah 51. Luputnya kena Al Maidah 51, habib Rizieq Shihab dipusingkan masalah kasus pornonya.

Bagaimana dengan ELOHIM YAHWEH yang mengganggu kenyamanan Musa ketika sudah nyaman hidupnya sebagai gembala kambing, tiba-tiba dikasih tugas melepaskan bangsa Israel dari Mesir? Bagaimana dengan Yunus yang mendadak diperintahkan menyerukan pertobatan ke kota Niniwe? Bagaimana dengan Paulus yang sudah nyaman sebagai orang Farisi, tiba-tiba dihadang perjalanannya oleh TUHAN dan dijadikan rasul yang menderita kepanasan, kedinginan, badai, kelaparan bahkan ancaman pembunuhan?! Bagaimana dengan setiap orang Kristen yang menerima amanah untuk menjadi garam dan terang dunia?!

Yah, hanya orang mati saja yang bisa Rest in Peace. Karena itu jangan berpikir jika sudah dikelilingi pagar tembok, dijaga Satpam dan dijamin dengan setumpuk uang, maka hidup anda sudah usai dari gangguan. Sebab Davidson Tantono luputnya mati di rumah, ditembak perampok di jalanan. Atau, Dodi Triono yang luputnya mati di jalanan, rumahnya di Pulomas dikunjungi perampok sadis yang menewaskan 6 jiwa. Ahok, kini harus rela melepaskan istrinya yang cantik, anak-anaknya dan segala harta bendanya. Habib Rizieq, kini harus deg-degan jantungnya setiap hari karena statusnya buronan polisi, sekalipun banyak uang, banyak pengacara dan banyak umat.

Jadi, anda bisa berharap memilih manakah gangguan yang menurut anda paling ringan? Pencuri, penipu, perampok, penyakit atau pengemis?!

3. PENGEMIS ITU PEMALAS;

Siapa bilang pengemis itu pemalas? Dia itu melakukan perjalanan dari pintu ke pintu, bukannya tidur-tiduran. Dia mengeluarkan keringat dalam usahanya mencari uang. Bandingkan dengan orang-orang pengangguran yang tongkrongan di warung-warung. Nggak punya pekerjaan, nggak punya uang, tapi nggak melakukan kegiatan apa-apa selain nongkrong, ngobrol, minta kopi dan rokok temannya, sambil menjaga keamanan kampung secara gratisan. Kalau ada pencuri barulah dia bekerja, yaitu menghajar habis pencuri itu. Tapi apa yang dia dapatkan? Gratisan!

Nah, berapa banyak pengangguran yang macam itu di kampung-kampung?! Macam lainnya adalah anak-anak orang kaya yang setelah lulus sekolah, menganggur, kerjanya main game online di warnet, kebut-kebutan, gonta-ganti pacar, menikmati narkoba, mabuk-mabukan?! Atau, pegawai-pegawai toko maupun kantoran yang usahanya sedang lesu, tidakkah mereka kerjanya hanya tidur-tiduran dan duduk-dudukan saja?! Atau, pegawai-pegawai negeri, polisi dan tentara, apakah semuanya disibukkan dengan pekerjaannya? Bagaimana dengan boss-boss atau taoke-taoke, memangnya apakah kesibukan mereka?!

Sales atau pedagang-pedagang keliling mungkin merupakan orang-orang yang paling sibuk, sebab mereka harus menjajakan dagangannya. Keringat mereka bercucuran, tapi berapakah uang yang mereka hasilkan?! Kasihan sekali! Kerja banyak jika hasilnya sedikit atau bahkan minus, bukan?!

Jadi, tolong definisikan yang benar yang pemalas atau yang rajin bekerja itu yang seperti apa? Kerja keras tak menghasilkan apa-apa, atau tak menghasilkan apa-apa berdiam diri saja?! Manakah yang lebih baik dibandingkan dengan pengemis?!

Kalau mengemis bukan termasuk bekerja, maka apakah definisinya bekerja itu? Bukankah suatu usaha untuk menafkahi hidup?! Bukankah uangnya yang dipentingkan? Yang penting dapat uang, bukan?! Entah nemu uang di tengah jalan, entah hasil menipu, mencopet, maling ataupun korupsi yang penting duitnya bisa untuk makan, bukan?! Perkara suatu pekerjaan itu halal atau berdosa, itu 'kan urusannya dengan TUHAN, bukan dengan manusia?!

Kalau soal dosa, manakah yang berdosa antara orang miskin yang mengemis dengan orang kaya yang tidak memberi sedekah? Justru orang yang kikir itulah yang berdosa! Mengemis itu haknya fakir miskin, sedangkan bersedekah itu kewajiban yang harus dilakukan oleh orang yang kaya. Jadi, orang miskin meminta itu merupakan haknya, dia sedang mengingatkan pada orang kaya tentang kewajiban keagamaannya.

Mazmur 37:25    Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;

Raja Daud bermazmur, bahwa orang benar takkan sampai menjadi pengemis. Jangan lupa itu adalah sebuah mazmur, artinya puji-pujian tentang ALLAH, merupakan sebuah filosofi atau konsep, seperti halnya orang berkata: orang baik akan dibalas dengan kebaikan, orang jahat akan dibalas dengan kejahatan. Itu adalah sebuah filosofi atau konsep, sedangkan kenyataannya Ayub yang saleh harta bendanya dihabisi iblis atas persetujuan ALLAH. Nyatanya kita berkata bahwa orang jahat itu lebih panjang umurnya daripada orang baik. Jadi, itu bukan sebuah kebenaran!

Maleakhi 3:10   Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

Benarkah bahwa jika kita membayar persepuluhan maka langit akan terbuka dan terjadi hujan uang? Tapi apakah ALLAH tidak akan memberikan upah kebenaran atas kebenaran kita?! Jadi, sekalipun bukan tentang langit yang terbuka lalu terjadi hujan uang, tapi itu adalah tentang janji ALLAH bahwa ALLAH akan membalas kebenaran kita dengan upah kebenaran yang terbaik, bukan?!

2Tesalonika 3:10   Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

Apakah rasul Paulus sedang membahas pengemis? Bukan! Tapi sedang membahas para pengangguran sebagaimana yang saya tuliskan di atas, yaitu tentang orang-orang yang kerjanya nongkrong di warung yang kerjanya membicarakan kejelekan tetangganya;

2Tesalonika 11    Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.

Pekerjaan apakah yang ELOHIM YESHUA anjurkan?

Yohanes 6:27     Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."

ELOHIM YESHUA justru mencela orang-orang yang memburu jabatan dan kekayaan duniawi, contohnya: Jokowi, Ahok, Prabowo yang memburu jabatan dan para konglomerat yang menghabiskan hari-hari hidupnya untuk menumpuk kekayaan. Alkitab tak pernah mencela pekerjaan mengemis.

Tak ada ayat yang secara jelas dan terang berkata: "Jangan mengemis!" Tapi ayat yang jelas dan terang itu berkata: "Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berdusta", dan lain-lainnya. Bukankah justru ayat-ayat yang terang dan jelas itu yang saat ini merupakan penyakit masyarakat? Mengapa mengemis yang disebut penyakit masyarakat - Pekat?! Ini sebuah penjungkirbalikkan kebenaran!

4. SEKAMPUNG PENGEMIS;

Di beberapa desa ada yang sekampung orang-orangnya pekerjaannya mengemis. Rumahnya bagus-bagus, ketika keluar rumah berpakaian necis, tapi ketika di jalanan berpakaian gembel.

Jangan lupa ada yang sekota kabupaten yang masyarakatnya adalah perampok dan bajak laut, seperti kota Kayu Agung, Sekayu dan Lahat, di Sumatera Selatan. Jangan lupa ada yang se-korp, yaitu kepolisian yang kebanyakannya adalah tukang pungli atau pegawai negeri yang kita kenal sebagai tukang korupsi.

Lebih banyak mana, lebih luas mana, dan lebih jahat mana?!

5. BERPURA-PURA;

Kaya tapi berpenampilan gembel. Bagaimana dengan penipu yang berpenampilan necis? Jika pengemis palsu, berapa banyak uang anda yang dirugikannya? Saya yakin nggak sampai Rp. 100.000,- Tapi penipu yang berpenampilan necis bisa merugikan anda ratusan juta hingga milyaran.

Setya Novanto, ketua umum partai Golkar disebut-sebut menerima bancakan e-KTP sebanyak Rp. 574 milyar. Gila, nggak?! SBY, mantan presiden kita yang gagah dan ganteng, konon terbelit kasus BLBI sebesar Rp. 114,5 trilyun. Lebih gila lagi, nggak?!

Ganteng-ganteng serigala?!

6. PENGHASILANNYA BESAR;

Ada pengemis yang penghasilannya bisa mencapai Rp. 500.000,- sehari. Apakah semua pengemis berpenghasilan segitu?! Memang ada pengemis yang saya tahu setiap hari makan roti bakar coklat keju. Tapi yang lebih sering saya lihat adalah yang makan nasi oyen, yaitu nasi sisa makan orang.

Seorang pemulung berkisah kepada saya, dulunya dia punya gerobak untuk memulung. Ketika dirinya ditangkap Satpol PP, orangnya ditangkap dan ditahan 3 bulan sedangkan gerobaknya ditinggalkan begitu saja, sehingga hilanglah gerobak yang merupakan kekayaannya itu. Seorang ibu warung nasi bebek Madura, berkisah, ketika ada razia Satpol PP, rombongnya senilai 5 jutaan dengan dagangannya senilai 4 jutaan diambil Satpol PP, sehingga total 9 jutaan! Apakah itu jumlah yang kecil?!

Kata menteri dalam negeri; Tjahyo Kumolo tentang Satpol PP: "Bahwa dalam melaksanakan instruksi kepala daerah atau melaksanakan peraturan daerah harus bersikap simpatik, mengedepankan penyuluhan, tidak over acting, dan menimbulkan tidak simpatiknya masyarakat kepada pemerintahan baik pusat maupun daerah," tulis Tjahjo dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/6/2016).

Pejabat yang sudah kayaraya, pegawai negeri dan polisi yang bergaji besar saja masih korupsi besar-besaran. Tapi mengapa orang-orang miskin yang karena kelaparan melakukan kejahatan justru yang disorot besar-besaran?! Salah fokus!

7. PANCASILA DAN UUD 1945;

Baik Pancasila maupun UUD 1945 tak ada yang mempermasalahkan pengemis. Justru pengemis yang termasuk fakir miskin diamanahkan untuk diperhatikan oleh pemerintah. Tapi mengapa pemerintahan di zaman ini justru mati-matian memusuhi fakir miskin?! Tidakkah ini merupakan penyelewengan pemerintah terhadap Pancasila dan UUD 1945 yang seharusnya diusut tuntas oleh DPR dan MPR?

Mengapa maling ayam yang melanggar KUH Pidana diadili sedangkan presiden yang melanggar Pancasila dan UUD 1945 tidak pernah diadili?!

Selasa, 27 Juni 2017

DEPARTEMEN SOSIAL HARUS DIBUBARKAN

Alkitab mengenalkan tentang 2 perjanjian ELOHIM, yaitu: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama berbicara tentang ALLAH, Perjanjian Baru berbicara tentang BAPA. Berbicara tentang ALLAH, kita berbicara tentang hubungan formal antara hamba dengan tuan, antara umat dengan TUHAN, kita berbicara tentang penegakan hukum. ALLAH itu untuk disembah! Tapi berbicara tentang BAPA, kita berbicara tentang hubungan mesra antara anak dengan bapak, kita berbicara tentang keutamaan kasih sayang.

Hukum dengan kasih adalah 2 hal yang saling bertentangan, sebab hukum tidak mengenal belas kasihan, sedangkan kasih sifatnya mengabaikan hukum. Hukum berkata: siapa saja yang bersalah harus dihukum, tapi kasih berkata: siapa saja yang berdosa akan diampuni. Hukum menuntut adanya kebenaran dan kesucian. Setiap yang kotor/najis akan ditendang. Tapi kasih menuntut adanya dosa. Tanpa dosa takkan keluar kasih. Jadi, dosa harus ada baru kasih ada, seperti dokter baru berfungsi jika ada orang yang sakit;

Markus 2:17    Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Berbicara tentang artinya, hukum itu adalah peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan atau ketetapan-ketetapan. Dalam hukum ada keteraturan, ada ketentuan, ada ketepatan, ada ketetapan. Hukum menuntut akurasi, seperti kerja mesin atau seperti kerja komputer yang berdasarkan program-program. Karena itu hukum menunjuk kepada benda mati yang daya kerjanya berdasarkan ketentuan untuknya. Jika kayu seperti apa kerja kayu, jika besi seperti apa kerja besi itu. Kayu tak mungkin seperti besi dan besi tak mungkin seperti kayu.

Tapi kasih tidak memiliki keteraturan. Kasih itu fleksibel, lentur, bisa begini bisa begitu, dan itu menunjuk ke benda atau makhluk hidup. Contohnya: malaikat atau manusia bisa suci juga bisa berdosa, yang kerjanya berdasarkan pertimbangan akal pikirannya. Mau jadi orang baik atau orang jahat, itu pilihan kita. Demikianlah ilmu pengetahuan mengenalkan pembagian menjadi 2 bagian, yaitu ilmu pasti dengan ilmu sosial.

Di zaman saya SMA, masing-masing murid disuruh memilih jurusan: IPA atau IPS. IPA - Ilmu Pengetahuan Alam, IPS - Ilmu Pengetahuan Sosial. Jika seorang murid cenderung berbakat dalam hal hitung-menghitung, dia akan pilih jurusan IPA, sedangkan yang tidak suka matematika akan pilih IPS. IPA akan berurusan dengan benda-benda mati, seperti: fisika dan kimia, sedangkan IPS akan berurusan dengan kemasyarakatan, seperti: sarjana hukum, ekonomi, kesusastraan, kebudayaan, psikologi, dan lain-lainnya.

Nah, berbicara tentang pekerjaan Departemen Sosial yang mengemban misi kemanusiaan, sila ke-2: Kemanusiaan yang adil dan beradab, dan pasal 34 UUD 1945 yang keseluruhannya bertujuan untuk memanusiakan manusia, bukannya membinatangkan manusia, maka Departemen Sosial tidak benar jika diurus oleh hamba atau budak atau karyawan, yakni pegawai negeri. Sebab pegawai negeri, setinggi apapun kedudukannya tetaplah budak atau robot yang bergantung pada perintah atasan. Sekalipun menteri sosial jabatannya, namun dia masih bergantung dari presiden.

Jika presiden memberikan anggaran sekian untuk Departemen Sosial, maka hanya sebatas itulah yang bisa dilakukan oleh menteri sosial. Jika presidennya macam Hitler yang berkata: racuni saja fakir miskin yang ada di panti-panti sosial itu, maka sang menteri pasti akan segera melakukannya. Sebab jiwanya adalah pegawai, bukan jiwa kemanusiaan. Berbeda dengan orang yang berjiwa kemanusiaan, dia akan membela mati-matian orang-orang yang dibawah tanggungjawabnya. Dia akan seperti suster Theresia atau seperti induk ayam yang melindungi anak-anaknya. Siapapun yang hendak menyakiti anak-anaknya pasti akan dilawan dengan taruhan nyawanya.

Tahun 2004 ketika Tsunami Aceh, Jusuf Kalla adalah wakil presidennya SBY. Mendengar bencana Aceh tersebut, Jusuf Kalla memerintahkan supaya semua obat-obatan yang ada di gudang dibawa ke Aceh. Namun pejabat kementerian kesehatan menjawab bahwa itu tidak mungkin, sebab sudah malam sementara tak diketahui siapa yang membawa kuncinya. Itulah pegawai, mati inisiatifnya. Tengah malam dan kunci sudah mematikan segala langkahnya. Tapi Jusuf Kalla yang mendengar jawaban itu gusar dan memerintahkan untuk mendobrak pintu gudang itu: "Tembak gemboknya!" Tengah malam dan gembok tidak boleh menjadi penghambat, sebab dia Boss! Sebab dia wakil presiden yang berkuasa.

Mental pegawai mati oleh rumus-rumus, oleh ketentuan-ketentuan, oleh protokoler. Hukum-hukum itulah yang lebih ditinggikan dari perikemanusiaan yang adil dan beradab. Tapi kasih merobohkan semua dalil-dalil mati itu.

Sekalipun jujur seorang pegawai tidak bisa diserahi tugas kemanusiaan. Lebih-lebih negeri ini dihuni oleh pejabat-pejabat yang korup, sebagaimana tekad Jokowi untuk melakukan revolusi mental. Sebab uang untuk pengadaan Al Qur'an saja dikorupsi. Hal yang berkaitan dengan ALLAH saja dia berani, lebih-lebih hal yang berkaitan dengan kemanusiaan. Sudah 2 menteri agama yang dipenjarakan karena kasus korupsi. Menteri agamanya saja macam begitu, apa pula macam menteri sosialnya?Dana bantuan untuk tsunami Acehpun tak jelas pertanggungjawabannya! Semakin ada bencana semakin senang para koruptor, sebab yang ada di otaknya hanya uang, bukan manusianya.

Jadi, karena itu bubarkan saja Departemen Sosial. Pemerintah kalau tak becus mengemban amanah Pancasila dan UUD 1945 lebih baik tak usah mendirikan kantor korupsi dengan kedok kemanusiaan. Sebab kehadiran kantor-kantor sosial itu lebih menyengsarakan fakir-miskin. Mereka akan dijadikan objek untuk mengeruk uang dan demi kesenangan mereka. Orang-orang di panti sosial dipaksa mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lucu-lucu, laki-laki disuruh mengenakan rok, lalu mereka tertawa terbahak-bahak. Kejahatan di sini tak mungkin terlacak dunia luar, berbeda dengan kejahatan para polisi terhadap tahanan, masih bisa diungkapkan ke sidang pengadilan. Di sini, di panti sosial ini markasnya iblis! Jadi, jahat dan biadab sekali jika presiden Jokowi tidak berbuat apa-apa! Tak ada gunanya blusukan jika tak bisa mengendus kejahatan di sini.

Tentang fakir miskin biarlah merupakan usaha pribadi-pribadi masyarakat terhadap perintah agamanya masing-masing. Tak usah dilembagakan! Karena lebih baik kelaparan di luar panti sosial daripada makan kenyang di panti sosial. Terkutuklah Satpol PP dan Departemen Sosial! Demi TUHAN mereka itu Anjing dan setan busuk! Kasihan sekali fakir miskin di Indonesia ini!


Kasus Cak Budi: Akhirnya Fortuner dijual dan donasi Rp1,7 milyar disalurkan


@cakbudi_ / Instagram


Aktivis sosial yang dikenal sebagai Cak Budi akhirnya menyalurkan semua donasi sebesar Rp1,7 miliar ke lembaga amal setelah dicerca dengan tudingan menyalahgunakan sumbangan untuk membeli mobil dan ponsel mewah.
Cak Budi yang banyak mengunggah kegiatannya di media sosial ini, diketahui membeli iPhone dan mobil Fortuner dengan menggunakan uang donasi yang diberikan para donatur untuk membantu orang-orang yang kurang mampu.
Hal ini terungkap awal pekan ini setelah sebuah akun Instagram mengatakan bahwa aktivis sosial itu sering mentrasfer donasi ke rekening pribadi.

Namun Cak Budi, yang nama aslinya Budi Nur Ikhsan ini mengatakan bahwa pembelian itu dilakukan untuk menunjang kegiatan amal yang dilakukan di berbagai tempat yang sulit dijangkau, dan tidak menggunakannya untuk kepentingan pribadi.
"Tapi kenapa harus iPhone 7 dan Fortuner?" tanya satu pengguna Instagram dengan geram. "Harusnya Anda malu," kata yang lain. "Sebagai seorang yang peduli pada fakir miskin, Anda membeli barang mewah."
Berbagai komentar juga mengajak pengguna media sosial untuk menyalurkan donasinya ke lembaga amal saja, bukan ke individu agar penyaluran dana lebih transparan.

Tidak dikelola baik

Setelah dihujani banyak kritikan, Cak Budi dalam akun Instagramnya (@cakbudi_) mengatakan telah menjual mobil Fortuner dan menyalurkan seluruh donasi ke lembaga amal Aksi Cepat Tanggap dengan total Rp1,7 milyar.
Uang itu mencakup donasi netizen yang diterima melalui rekening pribadi sebesar Rp560 juta, penyaluran dana lewat situs kitabisa.com Rp814 juta, dan hasil penjualan mobil Rp400 juta.
Dia juga meminta maaf karena 'telah mengecewakan banyak pihak.'
Kepada BBC Indonesia Lina Yusi Anggrawati, istri Cak Budi yang ikut membantu aktvitas sosialnya mengakui bahwa segala pencatatan donasi tidak dilakukan dengan rapi.
@cakbudi_ / InstagramHak atas foto@CAKBUDI_ / INSTAGRAM
"Sangat disayangkan, saya sebagai ibu rumah tangga memang agak kesulitan mencatat, memang seharusnya ada yang mengelola," katanya saat ditanya jumlah total warga yang dibantu dan uang yang telah disalurkan.
Lina mengatakan mobil Fortuner selalu digunakan suaminya untuk akvititas sosial dan tidak pernah digunakan untuk kepentingan pribadi.
"Ada banyak informasi datang ke kita (dari akun Instagram), tentang orang yang butuh bantuan di Malang, Kediri, dan kota lain. Jadi dia sering pergi, dua hari pulang, besoknya pergi lagi. Sekali jalan bisa bertemu 10 orang untuk memberi donasi."
Untuk sumbangan, Lina mengatakan Cak Budi bisa memberi sekitar Rp2-3 juta per orang sesuai kebutuhan dan sekitar Rp10-15 juta untuk bedah rumah.
"Ada yang bilang kita beli dua Fortuner, itu tidak benar. Kita punya mobil Innova tetapi kemudian ada kebutuhan untuk keperluan (penyaluran) donasi," tambahnya.

Campur Anjal dengan Orang Gila Termasuk Pelanggaran HAM Berat

PALEMBANG – Kasus dugaan anak jalanan (anjal) yang tertangkap dicampur sekamar bersama orang gila di Panti Sosial Rehabilitasi Dinas Sosial yang terletak di daerah Kenten memasuki babak baru. Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Palembang, Ahmad Romy Afriansyah dengan tegas mengatakan, jika benar ada tindakan seperti itu maka hal tersebut sudah merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat.
Hal tersebut disampaikan kepada Simbur saat mengikuti acara Coffee Morning di Aula Catur Cakti Mapolda Sumsel, Selasa (7/2). “Apabila anjal itu masih sehat maka tidak dibenarkan apabila mereka dicampur sekamar dengan orang gila. Apalagi jika anak-anak maka itu sudah pelanggaran berat,” tegasnya.
Romy menyatakan, miris dengan kondisi itu tersebut apalagi saat ini sudah ada Undang-Undang yang menjamin perlindungan terhadap anak. “Jika ada laporan yang masuk ke KPAID, kami siap untuk menindak lanjuti laporan tersebut,” lanjutnya.
Diketahui, Plt Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumsel, Belman Karmuda membantah jika tidak benar adanya anjal yang sekamar dengan orang gila di Panti sosial yang ada di daerah Kenten. Menurutnya, memang ada beberapa Rumah Sakit (RS) Jiwa yang sudah dinyatakan sembuh tetapi belum dijemput atau tidak lagi diterima oleh keluarganya sehingga dititipkan dulu di panti sosial. “Selain itu, Panti Sosial yang ada saat ini sudah over kapasitas sehingga mau tidak mau, ada yang digabung bersama penghuni lainnya.
Ditambahkan Belman, kendala yang dihadapi oleh dinas sosial kota sebagai pihak yang memiliki wewenang yaitu kondisi dimana lingkungan di panti sosial tidak senyaman di RS Jiwa, maka biasanya mantan pasien tersebut kambuh lagi sehingga hal itulah yang mungkin dikatakan anjal sekamar dengan orang gila.
“Per Januari 2017, kewenangan tersebut sudah diberikan ke Dinsos provinsi sehingga saya bersama kepala RS Jiwa Dr Ernaldi Bahar mencoba  merancang sebuah Memorandum of Understanding (MoU) dalam hal penanganan pasien yang sudah dinyatakan sembuh oleh dokter melalui pengobatan intensif. Jika sudah sembuh dan tidak ada keluarga yang menjemput maka akan kami titipkan di panti sosial tetapi tidak lagi digabung dengan penghuni yang lain,” pungkasnya.
Terkait adanya dugaan oknum yang meminta uang terhadap anjal, Belman juga mendapatkan info tersebut dan jika memang ada maka dirinya selaku pihak yang bertanggung jawab saat ini akan menindak tegas oknum yang kedapatan melakukan tindakan pemerasan tersebut. “Semua biaya yang ada itu sudah ditanggung oleh negara dan tidak benar jika ada pungutan atau biaya saat ingin keluar dari panti. Jika memang ada oknum, saya akan laporkan secepatnya agar diberikan sanksi tegas,” tegasnya.
Sebelum Januari 2017 semua adalah kewenangan dinsos kota Palembang maka tentu dirinya tidak terlalu mengetaui apa yang terjadi, hanya saja Belman menegaskan mulai dari Januari 2017, jika ada oknum yang melakukan pemerasan tersebut maka segera laporkan agar bisa dilaporkan ke Gubernur dan BKD agar diberikan sanksi sesuai dengan tindakannya
Diwartakan sebelumnya, anjal yang terjaring tersebut akan diinapkan terlebih dahulu di Panti Sosial Rehabilitasi Dinas Sosial yang terletak di daerah Kenten. Hal tersebut dilakulan sampai ada keluarga yang datang menjemput. Sekilas langkah tersebut sangatlah manusia, tetapi ada dugaan jika anjal ini justru dikumpulkan sekamar dengan orang gila di panti sosial tersebut. Tidak sampai disitu saja, dari informasi yang diperoleh Simbur, ternyata ada oknum yang meminta sejumlah uang kepada anjal yang ingin keluar dari Panti Sosial sebesar 300 ribu.
Berdasarkan laporan warga, Herman (45), anjal bersama gelandangan dan pengemis terus dirazia. Apabila tertangkap, mereka ditahan di panti rehabilitasi sosial Kenten dengan situasi yang mengerikan. “Bukan hanya anjal, ada juga pengamen  yang kena dirazia. Jika tertangkap Dinsos, mereka dikurung bercampur orang gila di panti sosial Kenten. Namanya juga orang gila, makan dan berak ya di sana. Kalaupun ada keluarga yang menebus harus menyiapkan uang Rp300 ribu,” ungkap pria yang menjajakan dagangan di lapak kawasan Pasar Cinde, Jl Jenderal Sudirman.(mrf)
KESAKSIAN PENGHUNI PANTI NERAKA : Sudah 32 Orang Meninggal Selama 10 Tahun

KESAKSIAN PENGHUNI PANTI NERAKA : Sudah 32 Orang Meninggal Selama 10 Tahun

TRIBUNNEWS.COM, PEKANBARU - Selama sepuluh tahun hidup di dalam panti jompo, lansia dan orang gila yang dikelola Yayasan Tunas Bangsa, Andi menyaksikan hal mengerikan.

Andi satu dari 19 orang penghuni panti jompo di Kilometer 20, Jalan Lintas Timur, Tenayan Raya, Kota Pekanbaru Riau. Ia pernah mendapat siksaan selama sepuluh tahun hidup di sana.

Selain pernah ditendang dan punggungnya disiram petugas panti menggunakan air panas bercampur cabai rawit, Andi mengetahui sudah 32 orang meninggal di sana diduga salah urus.

"Orang yang meninggal itu dibiarkan sekarat. Tidak dibantu," Andi membeberkan cerita itu kepada rombongan Dinas Sosial Riau dan Lembaga Perlindungan Anak Riau, Minggu (29/1/2017) siang.

Dikatakan dia, semua penghuni yang meninggal dikuburkan di Palas, Pekanbaru.
Ia begitu fasih menceritakan kondisi yang dialami penghuni selama menetap di sana. Alih-alih hidup diperhatikan justru panti tersebut tak ubahnya neraka bagi mereka. 
Cerita kekejaman lain yang Andi beberkan terkait pengelola panti yang sengaja mengambil perempuan hamil dengan iming janji-janji.

"Perempuan hamil yang dikatakan gila di bawa ke sini. Ditunggu sampai melahirkan. Anaknya diambil sedangkan yang perempuan dikurung di panti," kata dia.

Wajah Andi diliputi ketakutan, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tak ada petugas panti yang mendengar dan memelototinya.

Emosinya sempat meledak kala Andi mengingat penyiksaan yang dialami dirinya dan kawan-kawan di panti tersebut.
Pantauan Tribunpekanbaru.com, bangunan tersebut terdiri sepuluh kamar yang masing-masing berukuran 3x3 meter, berpintu teralis besi. Tiap kamar diisi dua sampai tiga orang.

Di tiap-tiap kamar terdapat satu toilet yang sama sekali tidak bersekat. Di sana tersedia air seember berkeruh dan berminyak untuk minum, mandi, dan cuci kakus penghuni.


BUBARKAN DEPARTEMEN SOSIAL!

Senin, 26 Juni 2017

BEBASKAN TAWANAN

Mungkin sebelum menjabat anda berangan-angan positif dan mulia, yaitu hendak menyejahterakan rakyat. Tapi jika setelah menjabat anda tidak melakukan itu melainkan justru melakukan yang jahat dan menyakiti hati rakyat atau bahkan korupsi besar-besaran, maka saya pikir masih lebih baik berdosa besar sebagai rakyat biasa daripada berdosa kecil sebagai pejabat. Anda adalah manusia yang paling jahat sekalipun dibalut dengan jas dan dasi dan sekalipun disemprot minyak wangi, anda adalah bau busuk.

Kepada saudara-saudara pembaca, mari kita berusaha membebaskan saudara-saudara kita para fakir miskin yang saat ini dipenjarakan di panti-panti sosial dengan cara membagikan tulisan saya dan menyampaikannya kepada para pejabat yang bersangkutan;

SAYA BUKAN INDONESIA, BUKAN PANCASILA 

http://bloghakekatku.blogspot.co.id/2017/06/saya-bukan-indonesia-bukan-pancasila.html


BERITA KEPADA KAWAN


Yesaya
1:11"Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai.
1:12Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?
1:13Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.
1:14Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya.
1:15Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.
1:16Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,
1:17belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!
1:18Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.
1:19Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.
1:20Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang." Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.

BERITA KEPADA KAWAN

PANCASILA, sekalipun bukan merupakan pengharapan orang Kristen, karena orang Kristen menaruh pengharapannya pada kehidupan yang lebih baik di sorga melalui YESHUA ha MASHIA, namun Pancasila merupakan pengharapan 250 juta rakyat Indonesia. Di sanalah rakyat Indonesia bermimpi tentang kehidupan berbahagia di negeri "kolam susu" ini, kata Koes Plus.

Rakyat membayangkan bisa beribadah kepada TUHAN dengan tenang, tanpa gangguan bom(sila ke-1). Rakyat membayangkan dirinya dimanusiakan secara adil dan beradab, bukannya karena maling ayam lalu dihajar babak belur oleh orang sekampung(sila ke-2). Rakyat membayangkan ada rasa persaudaraan antar suku, bukannya karena China, Ahok dipenjarakan dengan semena-mena(sila ke-3). Rakyat membayangkan para wakilnya yang duduk di DPR bisa mewakili aspirasi mereka, bukannya satu-persatu diciduk KPK karena kasus korupsi(sila ke-4). Dan rakyat juga membayangkan adanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bukannya meringkusi gelandangan dan pengemis, lalu memperlakukannya secara hewani(sila ke-5).

Karena Pancasila menjanjikan pengharapan yang sangat indah, yang diimpi-impikan semua orang dibandingkan dengan kondisi orang di zaman penjajahan asing yang hidup serba melarat, maka tidaklah salah jika orang mengeramatkannya. Jangankan orang menyembelih burung Garudanya, menginjak-injak atau membakar gambarnya saja, semua orang Indonesia pasti akan marah, memaki-maki, dan para laskar jihad FPI pasti akan membakar hidup-hidup orang itu.

Yah, membakar kertas gambar burung Garuda saja seluruh rakyat Indonesia bisa mata gelap. Padahal siapakah orang yang dirugikannya? Tidak ada yang dirugikan serupiahpun! Padahal siapakah orang yang disakitinya? Tidak ada yang tersakiti, tidak ada yang terluka, tidak ada yang teraniaya! Hanya kertas saja harus dibayar dengan nyawa. Betapa mahalnya segelas es cendol Rp. 100.000,-?!

Coba bandingkan antara orang yang membakar gambar burung Garuda dengan orang yang menjadikannya hiasan dinding saja, seperti di kantor presiden kita. Di kantor presiden tidak ada pembakaran gambar burung Garuda. Yang ada hanyalah hiasan dinding bergambar burung Garuda. Tapi apa akibatnya? Hanya sebuah tanda tangan saja di atas sebuah kertas keputusan presiden untuk mencabut subsidi BBM, 250 juta orang Indonesia harus membayar lebih mahal harga BBM dari yang sebelumnya. Tega sekali hatinya terhadap rakyatnya sendiri yang telah memilihnya menjadi presiden karena janji kampanyenya yang takkan mencabut subsidi BBM.

Presiden bukannya berterimakasih pada rakyat yang telah memilihnya, lalu memberikan hiburan yang menyegarkan, tapi presiden malah menambahi beban hidup rakyatnya sendiri. Kemiskinan sudah banyak, pengangguran tak teratasi, perekonomian tak membaik, tapi beban hidup semakin parah susahnya. Pening kepala seluruh rakyat Indonesia!

Bukankah zaman sudah maju pesat? Bukankah teknologi sudah sangat canggih? Tapi mengapa kehidupan bukannya semakin diringankan, melainkan semakin diberatkan?! Hidup semakin susah di zaman yang semakin maju! Aneh! Dari presiden yang satu ke presiden yang lainnya selalu ada menteri perekonomiannya. Tapi mengapa perekonomian tidak juga membaik, seperti permainan sepakbola yang kebobolan gawang: goal! Bobol berkali-kali: 10:0 skornya!

Selalu ada menteri tenaga kerjanya, tapi kenapa menjadi semakin banyak penganggurannya, seperti rumah yang terbuka pintunya dimasuki maling?! Apa sih kerjanya menteri itu? Selalu ada menteri pertaniannya, tapi kenapa harga pangan semakin mahal, kayak anak TK saja yang jadi menterinya tak becus apa-apa.

Sorry, ini bukan makar, bukan anti pemerintah, tapi anti ketidakbenaran! Sebab sekalipun perampokan di Pulomas yang membunuh 6 jiwa itu disebut peristiwa yang besar, padahal itu hanya merugikan sebuah keluarga saja, tidak sekeji "senjata pena" seorang presiden yang mengenai 250 juta orang. Dengan sekali tanda tangan saja, ribuan orang dibuat gulung tikar, menambah deretan fakir miskin. Pena lebih dahsyat dari pada pedang penjahat sekaliber apapun. Senyummu lebih mengerikan dari pada auman harimau manapun. Dan manakala kamu memberi saya kontan Rp. 100.000,- saya membayarmu Rp. 1 juta sekalipun secara mencicil. Melalui kenaikan harga barang-barang, saya ikut menyumbang APBN untuk membiayai operasional kepresidenanmu.

Dari rokok saja; sebungkus harganya Rp. 10.000,- perhitungan cukainya 40% = Rp. 4.000,- sedangkan perhitungan pajaknya 10% = Rp. 1.000,- sehingga setiap bungkusnya saya menyumbang APBN sebesar Rp. 5.000,- Setiap hari saya mengkonsumsi 2 bungkus, setahun: 2 x Rp. 5.000,- x 365 hari = Rp. 3.650.000,-

Jika pabrik rokok diuntungkan 20%, maka keuntungan perbungkusnya Rp. 2.000,-, setahun: 2 x Rp. 2.000,- x 365 hari = Rp. 1.460.000,- Itu adalah penopang hidup 6,1 juta buruh pabrik rokok beserta dengan keluarganya. Jadi, semiskin-miskinnya saya, saya telah berpartisipasi sebesar Rp. 5.000.000,- pertahun untuk pemerintah dan untuk buruh pabrik rokok.

Tapi layanan apakah yang telah saya terima dari pemerintah? Memberikan gagasan pekerjaankah? Tidak! Saya harus memutar otak sendiri untuk menemukan sebuah mata pencarian. Akhirnya keluarlah gagasan untuk menjual gorengan. Apakah pemerintah memberikan permodalan? Tidak! Saya harus putar otak dan utang kiri-kanan untuk memodali jualan gorengan itu. Apakah pemerintah memikirkan pemasarannya? Tidak! Saya harus memutar otak untuk menemukan lokasi berjualan yang sekiranya laris. Saya tidak mungkin berpikir berjualan gorengan di kuburan, sebab orang-orang mati dilarang dokter makan gorengan. Maka terpaksalah saya membawa dagangan saya ke sebuah pasar. Di sebelah manakah? Bingung, saya. Di atas trotoar dilarang Satpol PP, di belakang trotoar lahan milik orang yang harus disewa, sedangkan di bawah trotoar jalan raya. Nah, kalau anda menjadi saya, di manakah anda akan berjualan? Di bawah, di belakang atau di atas trotoar? Jelas, logisnya adalah yang di atas trotoar untuk orang-orang yang modalnya pas-pasan, yang tak mampu menyewa kios.

Karena melanggar peraturan atau PERDA, maka setiap hari hati ini was-was, tidak tenang, tidak tenteram. Bukan was-was pada maling atau copet atau perampok, tapi was-was pada kehadiran Satpol PP. Aneh! Petugas pemerintah yang seharusnya memberikan rasa aman dan tenteram kepada masyarakat, ternyata bisa menimbulkan teror yang melebihi teroris Kampung Melayu. Ada Satpol PP, kabur! Fakir miskin dan rakyat terlantar setiap kali melihat kedatangan Satpol PP, langsung kabur! Bahkan orang-orang gilapun nggak ada yang mau dimasukkan ke Panti Sosial. Ada Satpol PP, fakir miskin dan rakyat terlantar, kabur!

Aneh! Padahal di UUD 1945 pasal 34, bunyinya: "Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara." Seperti apakah artinya dipelihara itu? Apakah asal diberi makanan, asal bernafas, asal hidup? Jika arti dipelihara itu asal hidup, maka Panti Sosial milik Departemen Sosial itu sudah memenuhi syarat. Biarpun orang dimaki-maki, ditendang, dibentak-bentak, dikasih pakaian yang tidak layak, makanan yang tidak sehat, dikerangkeng, tokh nggak ada yang mati. 

Kapasitas gedung hanya untuk 350 orang, diisi 600 orang, maka tidurpun harus dengan posisi duduk. Posisinya tidak benar, nyamuknya banyak, ventilasinya kurang, pengap, panas, dan bau keringat orang-orang yang setahun tidak mandi. Air minum serba kekurangan, WC rusak, kotor, bau dan jorok sekali, sampai selokan-selokanpun sudah dipenuhi kotoran manusia. Orang gila, orang stress dan orang waras dicampur jadi satu. Orang sakit dengan orang sehat dicampur jadi satu. Sayuran yang mengandung pestisida tidak dicuci, langsung dimasak, tanpa bumbu yang seharusnya, maka jadilah masakan yang tidak sehat dan tidak enak. 

Pemerintah menganjurkan orang bersekolah. Di sekolah diajarkan menjaga kesehatan, di sini rusak! Diajarkan mandi dengan sabun, di sini tak ada sabun! Diajarkan menggosok gigi, di sini tak ada sikat gigi maupun odolnya! Diajarkan berak di WC, WC-nya rusak semua! Diajarkan makanan empat sehat lima sempurna, di sini tak ada makanan yang menyehatkan! Diajarkan tentang penyakit menular, di sini orang sakit dicampur-aduk dengan orang sehat! Orang kesalahannya hanya karena mengemis, menggelandang dan mengamen saja, dikerangkeng tanpa sidang pengadilan.

Ada yang dimasukkan ke sebuah kamar yang tak ada WC-nya, sehingga orang itu harus berak dan kencing di lantai kamar itu atau di dalam tas kresek. Memang itu orang yang dinilai nakal, tapi jika terkategori kriminal 'kan seharusnya dilaporkan ke polisi supaya dipenjarakan, bukannya dimasukkan ke Panti Sosial?!
Gubernur Ahok ketika melakukan inspeksi mendadak ke Panti Sosial, berkata: “Kita tidak mau siapapun diperlakukan seperti ini. Menurut saya nggak manusiawi cara dinas sosial. Kita nggak mau kurung orang,” - “PKL saja enggak boleh dikurung, kenapa anak-anak yang cuma ngemis karena butuh uang dikurung? Ini cara berpikir yang salah, tolong diubah polanya,” - “Kalau tangkap orang dari mana pun, kalau pagi-pagi langsung harusnya pulang hari itu. Paling lama nginap semalam. Anak-anak juga tidak boleh dikurung, begitu pun ibu-ibu yang bawa anak,” Soal aroma yang tidak sedap itu, Ahok meminta petugas dinas sosial memberikan sabun dan shampoo. “Gak ada mandiin ya? Bau. Kasih sampo. Mother Theresa saja mandiin pengemis. Minimal mereka mati terhormat,” ungkapnya.

Saya mengucap syukur, ada pihak pemerintah yang telah melihat dan memberikan penilaian. Mudah-mudahan ini menjadi titik awal sebuah perubahan menuju program PANCASILA, dan bapak presiden kita, Jokowi, bukan cuma berkata: "Menurut Trias Politika, presiden, eksekutif dilarang masuk ke wilayah yudikatif dan legislatif", sehingga sekalipun mantan wakilnya, Ahok, diperlakukan tidak adil, itu wilayah yudikatif, dan sekalipun KPK diangket DPR, itu wilayah legislatif, maka kepala negara hanyalah penonton bagi kehancuran hukum di negeri ini. Sama seperti saya yang tak mempunyai kewenangan apa-apa; presiden = rakyat biasa. Padahal presiden itu KEPALA NEGARA. Lupa?!

Saat ini saya justru lebih baik dari presiden Jokowi, sebab saya masih mengeluarkan suara, berbicara dan memberikan penilaian, bukan berdiam diri menonton saja. 

PERDA, oh PERDA! Peraturan Daerah adalah sumber malapetaka fakir miskin di negeri ini. Dari manakah itu asal-usulnya? Bukankah itu hasil pikiran antara kepala daerah dengan DPRD-nya? Bukankah kepala daerah dan anggota DPRD itu orang-orang kaya? Tak kaya tak mungkin bisa membiayai kampanye pemilihannya. Tahu apakah orang kaya tentang dunia fakir-miskin, selain tahunya mereka itu berpakaian compang-camping dan bau? Tahukah mereka tentang susah-payahnya para fakir-miskin itu untuk membeli jas, dasi dan minyak wangi?!

Kalau tak tahu apa-apa bagaimana mereka hendak mengatur dan memasuki dunia fakir-miskin, yang oleh sebab kalah persaingan usaha orang pailit, oleh sebab krisis ekonomi orang menjadi miskin, oleh sebab kebijaksanaan pemerintah yang tidak bijaksana orang menjadi susah, oleh sebab kena PHK orang menjadi pengangguran, oleh sebab butuh uang rumah dijual, oleh sebab uang tak cukup orang mengontrak rumah, oleh sebab penghasilan tak memadahi orang indekos, dan oleh sebab buat makan saja susah orang hidup menggelandang di jalanan?! Oleh sebab tak ada modal orang menganggur, oleh sebab butuh mengisi perut orang mengemis. Jika bekerja tak ada lowongan, mencuri dosa, bukankah yang terbaik adalah mengemis?!

Gara-garanya adalah Soeharto, yang ketika menjadi presiden menggagas piala Adipura, sehingga kota-kota berlomba menjaga kebersihan, dan kebersihan itu dipahami sebagai kebersihan dari gelandangan dan pengemis, yang dianggap mengganggu pemandangan. Para pejabatpun kehilangan akal sehatnya, sehingga Pungli, korupsi, nepotisme, suap-menyuap, ketidakadilan hukum dan arogansi yang kejadiannya tersembunyi, tidak menyolok mata dipikir lebih bersih dari keberadaan para gelandangan itu. Satpol PP yang setiap bulan ramadhan keluar-masuk toko menenteng map permintaan sumbangan dianggap masih lebih baik dari pengemis yang melakukannya. Pengemis yang asli dikerangkeng, pengemis palsu dihalalkan.

Di saat masyarakat sudah muak dengan lembaga-lembaga amal dan zakat yang sarat dengan penipuan, yang dijadikan mata usaha memperkaya diri dengan menjual label fakir miskin dan rakyat terlantar, yang semakin tidak dipelihara dengan baik, semakin kurus, semakin menghasilkan banyak sumbangan, dan masyarakat ingin menyalurkan sumbangannya secara langsung ke fakir-miskin yang berhak, pemerintah justru menyembunyikan fakir-miskin itu dengan menangkapi mereka dan menjebloskannya ke Panti Sosial, dan mempromosikan lembaga-lembaga amal yang brengsek itu. Yang tidak benar diagung-agungkan, yang benar dikucilkan. 

PERDA, oh PERDA! Bukankah pejabat-pejabat pembuatnya itu pejabat yang dikenal korup? Bagaimana mungkin bajingan bisa membuat aturan yang baik? Karena itu harusnya Perda-perda itu dibatalkan, harus dianggap cacat hukum, sebab dibuat oleh orang yang mabuk atau tidak waras pikirannya. Buktinya, pemeliharaan fakir-miskin itu tidak sejalan dengan bunyi pasal 34 UUD 1945. Penyelenggaraan pemeliharaan fakir miskin itu jauh panggang dari api. Keinginan Jokowi merevolusi mental merupakan sebuah pengakuan Jokowi atas sakitnya mental para pejabat di tanah air ini. Karena itu Kementerian Sosial harus dibubarkan sebagaimana pernah dilakukan oleh presiden Gus Dur, atau presiden Jokowi membatalkan Perda-perda itu. 

Menganiaya fakir-miskin dan rakyat terlantar benar-benar merupakan perlawanan terhadap ajaran keagamaan manapun, sebab tak ada agama yang melawan pengemis dan gelandangan. Tak ada agama yang mendukung keberadaan Satpol PP. Tak ada agama yang menganjurkan didirikannya departemen sosial, sebab perintah kemanusiaan ditujukan kepada pribadi-pribadi, bukan kepada lembaga. Yang harus baik adalah orang, bukan lembaga. Yang ditawari sorga adalah orang, bukan departemen sosial. Yang diperintahkan mengurus fakir miskin adalah rasul atau nabi, bukan pejabat! TUHAN tak pernah mempercayai pejabat pemerintahan!

Harusnya pemerintah itu mengurus orang-orang yang jahat, bukan mengurusi orang-orang yang miskin. Seperti polisi itu sudah benar, sebagaimana kata rasul Paulus;

Rm. 13:4Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.

Polisi menangkapi penjahat, itu benar! Tapi Satpol PP menangkapi orang miskin atas dasar peraturan yang dibuat oleh para koruptor, sungguh-sungguh jahat sekali itu! Mudah-mudahan presiden Jokowi membaca tulisan ini dan sadar akan pelanggarannya yang serius terhadap UUD 1945 & Pancasila!

>> Piala Adipura?

>> Kementerian Sosial?

>> Perda-perda?

Contoh Perda yang lainnya adalah larangan membuka warung dan dunia hiburan di bulan ramadhan. Sebab warung-warung dan dunia hiburan itu butuh duit banyak untuk lebaran, untuk menggaji karyawannya, untuk biaya sehari-hari. Para pelacur itu punya perut yang harus diisi makanan, pak, sekalipun pekerjaan mereka itu berdosa. Tapi dosa itu urusan TUHAN, bukan urusan pemerintah, pak. 

Padahal gubernur Bengkulu yang Muslim melakukan korupsi di bulan ramadhan. Habib Rizieq Shihab yang ulama terkenal menjadi buronan kasus Chat porno di bulan ramadhan, malahan kaburnya ke Arab Saudi, ke kota suci. Para teroris yang barusan menyerang Mapolda Sumut juga melakukannya di hari menjelang Lebaran. Para polisi, Densus 88 juga membunuhi para teroris di bulan ramadhan. Apakah karena polisi sehingga diperbolehkan membunuh sesamanya? Maka apa salahnya jika para pelacur itu melayani tamu-tamu hidung belangnya di bulan ramadhan, atau warung-warung itu menjual makanannya kepada orang-orang yang tidak berpuasa?!

Ajaran yang bijaksana mengajarkan:
Yohanes
8:3

Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
8:6Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Mat. 7:1"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
 
Tolong sebarkan tulisan ini kepada Jokowi, DPR, Gubernur, Walikota, DPRD, menteri sosial, Satpol PP, dan lain-lainnya. 

Mungkin Tuhan mulai bosan 
Melihat tingkah kita 
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa 
Atau alam mulai enggan 
Bersahabat dengan kita 
Coba kita bertanya pada 
Rumput yang bergoyang



Gambar terkait

Sabtu, 24 Juni 2017

SAYA BUKAN INDONESIA, BUKAN PANCASILA

Ketika ada selentingan dari masyarakat yang menuding Jokowi PKI, Jokowi langsung bereaksi dengan berkata: "Saya Indonesia, saya Pancasila!" Maka kata-kata "saya Indonesia, saya Pancasila"-pun akhirnya menjadi viral di berbagai media massa. Tapi, apakah PKI bukan Indonesia dan bukan Pancasila, jika kelahirannya malah mendahului Indonesia dan Pancasila, yakni lahir tahun 1914, sementara Indonesia dan Pancasila baru lahir di tahun 1945. Bukankah ada kata-kata "Indonesia"-nya di singkatan PKI itu - Partai Komunis Indonesia?! Karena termasuk Indonesia, maka PKI juga Pancasilais, sebagaimana partai-partai politik lainnya yang ada di Indonesia ini. Cuma masalahnya pada tanggal 12 Maret 1966, sehari setelah munculnya surat "misterius": SUPERSEMAR, Surat Perintah Sebelas Maret, yang mengesankan seolah-olah presiden Soekarno memberikan mandat kepada Soeharto untuk membubarkan PKI, maka pada hari itulah PKI dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang.

Tapi itu 'kan masalah politik, bukan kebenaran?! PKI dianggap setan, seolah-olah Indonesia dan Pancasila lebih malaikat. Padahal saat ini ada 190.000 orang Indonesia yang dipenjarakan karena berbagai macam kasus. Ada kasus pembunuhan, ketika dilihat KTP-nya, KTP Indonesia. Ada kasus copet, maling ayam, perkosaan, perampokan, hingga korupsi, yang semuanya dilakukan oleh orang yang ber-KTP Indonesia. Bahkan barusan ada bom teroris Kampung Melayu, ada perampokan sadis di Pulomas yang memakan korban 6 jiwa, ada gubernur Bengkulu bersama istrinya yang ditangkap KPK karena kasus suap, dan semua pelakunya adalah orang-orang Indonesia.

Dan yang lebih menghebohkan lagi, Novel Baswedan, seorang yang gigih memberantas korupsi mukanya disiram air keras, lalu anggota DPR-RI yang terlibat kasus e-KTP kini ramai-ramai membentuk Pansus hak angket untuk menggembosi KPK, lembaga antikorupsi termegah di Indonesia. Juga ada Ahok yang dihukum karena dianggap menghina Islam, selain dari seorang habib FPI yang sedang melarikan diri karena kasus porno. Dengan kata lain orang Indonesia adalah orang-orang yang tidak semuanya baik. Malah kebanyakannya adalah orang-orang yang tidak baik dan tidak bijaksana, yang bisa kita lihat dari tingkah laku anggota DPR-nya yang merupakan pilihan rakyat.

Kalau rumput habis tandanya dimakan kambing, kalau jagung habis tandanya dimakan ayam, demikianlah anggota DPR yang amburadul menyatakan amburadulnya para pemilihnya. "Orang begitu koq dipilih menjadi anggota DPR?" Itu tandanya nggak pandai memilih.

Apakah saya orang Indonesia? Kebenaran menyatakan bahwa saya bukan orang Indonesia. Saya orang dunia, bukan orang Indonesia. Artinya, semua orang, semua bangsa, semua negara adalah sesama saya. Orang Malaysia, orang Australia, orang Jepang, orang Amerika, orang Negro hingga orang Etiopia adalah sesama saya. Siapa saja yang memerlukan pertolongan saya wajib saya tolong tanpa memandang muka, apakah dia bermuka Indonesia atau bermuka Argentina. Jika orang Indonesia salah, ya salah, jika orang Belanda benar, ya benar. Kebenaran berdasarkan kebenaran, bukan berdasarkan kewarganegaraannya.

Itulah ajaran yang saya terima dari TUHAN saya, yang lebih baik, lebih mulia dan lebih benar dibandingkan dengan ajaran "saya Indonesia, saya Pancasila". Bahwa manusia jangan dibeda-bedakan berdasarkan kewilayahannya. Dan manakala ada gas LPG yang lebih baik dari kompor minyak tanah, maka kompor minyak tanah sudah tidak berlaku lagi. Jika ada ajaran yang lebih baik, maka ajaran yang kurang baik harus ditinggalkan, tidak dipakai lagi.

Bukankah saya lahir di Indonesia? Bukan! Saya lahir di kota Surabaya, bukan di Indonesia. Indonesia itu anak ingusan yang baru lahir tahun 1945, sedangkan kota Surabaya sudah ada sejak tahun 1293 berdasarkan UU Nomor 12/1950. Negara Indonesia mengakui keberadaan kota Surabaya itu sejak tanggal 31 Mei 1293. Di tahun itu kota Surabaya termasuk wilayah kerajaan Singasari, bukan Indonesia.

Jika temuan prasasti tertua menunjukkan angka tahun 1293, itu artinya ada sejarah yang hilang selama 1293 tahun, dihitung dari tahun 0. Kebenaran harus berpusat pada titik awalnya sebagaimana sebuah mobil selalu disertai dengan kronologis pembeliannya, siapa pembeli pertamanya. Dan kebenaran menyatakan bahwa Pemilik asli kota Surabaya adalah ELOHIM YAHWEH, Pencipta sekalian alam.

Tahun 1293 Surabaya dikuasai oleh kerajaan Singasari, tahun 1595 dikuasai oleh Belanda, tahun 1926 Belanda menetapkan Surabaya sebagai ibukota propinsi Jawa Timur. Jadi, sebelum Indonesia menguasai Surabaya pada tahun 1945, Surabaya adalah milik Belanda. Artinya, ada peristiwa pergantian penguasanya, sehingga Surabaya tidak mesti milik Indonesia. Siapa tahu kelak ada negara Jawa Timur, sebagaimana Xanana Gusmao yang berhasil melepaskan Timor Timur dari NKRI atau Hasan Tiro yang memperjuangkan kemerdekaan Aceh, atau Filep Karma yang memperjuangkan kemerdekaan Papua? Itu artinya daerah-daerah itu memiliki anggapan bahwa Indonesia adalah penjajah mereka sebagaimana Belanda, Inggris dan Jepang yang suka kita sebut penjajah.

Pemerintah Belanda yang tidak rela meninggalkan Indonesia sempat membentuk Negara Jawa Timur pada tanggal 26 November 1948, sesuai dengan kesepakatan Konferensi Meja Bundar di mana disarankan supaya Indonesia tidak menjadi negara kesatuan sebagaimana sekarang ini, tapi berbentuk Republik Indonesia Serikat(1949-1950), sebagai bagian dari Republik Otonomi Belanda. Dan Republik Indonesia Serikat itu dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1950. Artinya, Soekarno secara mati-matian mengusahakan Indonesia republik yang berdaulat.

Jadi, Surabaya adalah milik ELOHIM YAHWEH yang dikuasai oleh Indonesia, sebuah negara yang tidak berbangsa(tidak mempunyai kebangsaan). Bandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki kebangsaan sendiri, seperti Jepang berbangsa Jepang, China berbangsa China. Tapi Indonesia terdiri dari berbagai macam suku. - Bhineka Tunggal Ika. Berbagai macam suku itu disatukan menjadi bangsa Indonesia. Bangsa apakah itu? Apakah bangsa yang berkulit macan?

Kalau terjadi perkawinan campur, seperti Jawa dengan Batak, atau Ambon dengan Minang, barulah lahir bangsa Indonesia - Bhineka Tunggal Ika. Itulah anak-anak Indonesia, yaitu anak-anak hasil perkawinan campur. Tapi sayangnya, umumnya masing-masing suku berkeberatan mengikat perkawinan dengan suku lainnya. Bhineka masih sulit ditunggalika-kan.

Karena penggalian kebenaran memberikan kenyataan bahwa kota Surabaya itu bukan milik kerajaan Singasari, bukan milik Belanda maupun Indonesia, melainkan milik ELOHIM YAHWEH, maka saya adalah warga negara Kerajaan ELOHIM YAHWEH. Kepada DIA saja saya ini berbhakti dan melaksanakan ajaran-ajaranNYA. Tanah ini adalah tanahNYA. DIA-lah yang melahirkan saya, membesarkan saya dan menghidupi saya.

Saya tidak mungkin menerima Indonesia dan Pancasila, sebab Indonesia mengajarkan bahwa semua agama dan semua tuhan adalah sama, sejajar! Indonesia tidak mengakui YESHUA ha MASHIA sebagai satu-satunya JALAN dan KEBENARAN dan HIDUP, tidak mengakui KEJURUSELAMATAN dan KETUHANANNYA. Falsafah hidup saya berdasarkan DASASILA, bukan Pancasila; 10 Hukum ELOHIM YAHWEH, bukan 5 hukum Pancasila.

Hukum yang ke-1: Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

Hukum yang ke-2: Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

Hukum yang ke-3: Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

Hukum yang ke-4: Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat

Hukum yang ke-5: Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

Hukum yang ke-6: Jangan membunuh.

Hukum yang ke-7: Jangan berzinah.

Hukum yang ke-8: Jangan mencuri.

Hukum yang ke-9: Jangan bersaksi dusta.

Hukum yang ke-10: Jangan menginginkan milik orang lain.

Saya tidak mungkin Indonesia dengan kewajiban membela dan mempertahankan NKRI, sebab semua bangsa adalah sesama manusia yang berdiri sejajar yang harus saya kasihi sekalipun mereka memusuhi saya. Saya tidak mungkin berperang melawan Malaysia, sekalipun Malaysia melakukan kejahatan terhadap Indonesia. Saya tidak mungkin membenci Belanda atau Jepang, yang disebut penjajah. Jangankan untuk angkat senjata terhadap mereka, mencubit atau merugikan merekapun jangan sampai saya lakukan.

Matius
5:43Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
5:44Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Saya tidak mungkin seperti orang Indonesia, yang ketika menjadi presiden menekan perekonomian rakyatnya dengan menaikkan harga-harga dan mencabut subsidi-subsidi. Saya tidak mungkin seperti orang Indonesia, yang ketika menjadi anggota DPR membuat kegaduhan nasional, yang ketika menjadi gubernur melakukan suap, yang ketika menjadi hakim memutuskan perkara secara tidak adil, yang ketika menjadi habib melakukan chat porno lalu kabur sebagai buronan, yang ketika menjadi polisi menjual surat tilang, atau ketika menjadi tentara main tembak sembarangan.

Jika mobil  rusak saja dibawa ke bengkel untuk diperbaiki, bagaimana seorang presiden membiarkan penjara yang disebut dengan Lembaga Pemasyarakatan, yang harusnya memperbaiki akhlak manusia yang rusak, malah menjadikan orang semakin jahat?! Penjara malah merupakan sekolah kejahatan yang memproduksi setan-setan. Orang keluar penjara harusnya menjadi orang yang lebih baik, seperti mobil yang keluar dari bengkel. Tapi pemerintah memperlakukan penjara sebagai tong sampah, tempat manusia buangan. Tak ada perhatian, tak ada anggaran yang baik. Anggaran untuk penjara minim, sedangkan untuk pembangunan infrastruktur diperjuangkan sekalipun harus melanggar janji kampanyenya yang takkan berutang.

Dalam 2,5 tahun pemerintahan Jokowi telah timbul utang senilai 3.600 trilyun, setara dengan 5 tahun pemerintahan SBY atau lebih mengerikan dari pemerintahan Orde Baru selama 30 tahun. Itu artinya rakyat harus siap menanggung kenaikan pajak, kenaikan cukai rokok, kenaikan harga BBM, kenaikan harga pupuk dan kenaikan tarip listrik, sebab itulah sumber pendanaan pemerintah yang paling efektif, paling gampang.

>> Utang Orde Baru Rp. 1.723 Trilyun.

>> Utang SBY Rp. 2.532 Trilyun.

>> Utang Jokowi Rp. 3.466 Trilyun.

Melawan kenaikan harga, tembak di tempat!

Hasil gambar untuk utang jokowi